Jejak Langkah Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Jejak Langkah. Here they are! All 25 of them:

β€œ
Ilmu pengetahuan, Tuan-tuan, betapa pun tingginya, dia tidak berpribadi. Sehebat-hebatnya mesin, dibikin oleh sehebat-hebat manusia dia pun tidak berpribadi. Tetapi sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsanya. Kan begitu Tuan Jenderal?
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Jejak Langkah (Tetralogi Buru, #3))
β€œ
Tanpa wanita takkan ada bangsa manusia. Tanpa bangsa manusia takkan ada yang memuji kebesaranMu. Semua puji-pujian untukMu dimungkinkan hanya oleh titik darah, keringat dan erang kesakitan wanita yang sobek bagian badannya karena melahirkan kehidupan.
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Jejak Langkah (Tetralogi Buru, #3))
β€œ
Apakah sebangsamu akan kau biarkan terbungkuk-bungkuk dalam ketidaktahuannya? Siapa bakal memulai kalau bukan kau?
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Jejak Langkah (Tetralogi Buru, #3))
β€œ
Dan doa-doa itu, apa artinya dia kalau bukan gerakan dari minus ke plus? Tahu kau apa artinya doa? Permohonan pada Tuhan, gerakan dari yang paling minus pada yang paling plus.
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Jejak Langkah (Tetralogi Buru, #3))
β€œ
..dan modern adalah juga kesunyian manusia yatim-piatu dikutuk untuk membebaskan diri dari segala ikatan yang tidak diperlukan: adat, darah, bahkan juga bumi, kalau perlu juga sesamanya.
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Jejak Langkah (Tetralogi Buru, #3))
β€œ
Di balik setiap kehormatan mengintip kebinasaan. Di balik hidup adalah maut. Di balik persatuan adalah perpecahan. Di balik sembah adalah umpat. Maka jalan keselamatan adalah jalan tengah. Jangan terima kehormatan atau kebinasaan sepenuhnya. Jalan tengahβ€”jalan ke arah kelestarian.
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Jejak Langkah (Tetralogi Buru, #3))
β€œ
Semua yang baik datang berduyun-duyun. Hanya karena aku sudah memulai. Yang lain-lain akan datang dengan sendirinya. Semua membutuhkan permulaan. Permulaan sudah ditempuh.
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Jejak Langkah (Tetralogi Buru, #3))
β€œ
Perdagangan membikin orang terbebas dari pangkat-pangkat, tak membeda-bedakan sesama manusia, apakah dia pembesar atau bawahan, bahkan budak pun. Pedagang berpikiran cepat. Mereka menghidupkan yang beku dan menggiatkan yang lumpuh
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Jejak Langkah (Tetralogi Buru, #3))
β€œ
Berbahagialah mereka yang bodoh, karena mereka kurang menderita. Berbahagialah juga kanak-kanak yang belum membutuhkan pengetahuan untuk dapat mengerti.
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Jejak Langkah (Tetralogi Buru, #3))
β€œ
Berbahagialah dia yang tak tahu sesuatu. Pengetahuan, perbandingan, membuat orang tahu tempatnya sendiri, dan tempat orang lain,gelisah dalam alam perbandingan.
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Jejak Langkah (Tetralogi Buru, #3))
β€œ
Mereka bertengkar ramai dalam bahasa yang bagiku sama asingnya dengan bahasa nasib manusia.
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Jejak Langkah (Tetralogi Buru, #3))
β€œ
Siapa yang dapat ramalkan bagaimana jadinya bayi? Jadi nabi atau bajingan, atau jadi sekedar tambahan isi dunia.
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Jejak Langkah (Tetralogi Buru, #3))
β€œ
Seperti dinding kamar yang retak dan mulai berlumut, pagar besi yang merapuh oleh noda karat dan daun daun mangga yang luruh di pekarangan rumah, demikianlah kita membaca kehidupan. Begitu banyak kata yang seringkali susah untuk ditafsir seperti "nasib", "kebahagiaan" dan "kesempurnaan". Entah mengapa, Bunda masih berasa gamang saat berjalan di atas tangga batu yang menuju ke ruang tamu di rumah barumu. Serasa mendengar dering suara alarm yang bergelayut di dalam mimpi. Menyibak kabut dan pagi juga. Bukankah kadang kadang kita merasa larut dalam kesunyian, meski riuh jalan raya bersicepat melawan waktu? Meninggalkan jejak langkah dalam segala ketergesaannya. Memaksa kita memungut semua peristiwa yang berhamburan di atas trotoar. Memaksa semua orang menitikkan air mata. Mengapa dalam momen momen serupa itu, kebersamaan dengan orang yang kita cintai justru berasa semakin berarti? Mengapa justru di tengah keramaian, kita bisa merasa begitu kesepian? Begitulah, jarum jam berputar di sepanjang perjalanan berusaha keras mengabadikan semua peristiwa. Mentautkan satu angle dengan angle yang lain, memotret semua kejadian dari mata seekor jengkerik. Menatap tak berkedip gedung gedung megah yang angkuh berdiri, serupa monster monster yang siap merengkuh apa saja; Lautan manusia berjejal keluar dari bandara, kerumunan lalat di atas tumpukan sampah di pasar, kelejat pikiran yang berlari lari mengejar matahari, kebimbangan yang tergugu di pojok terminal, harapan yang terkantuk kantuk di dalam bus kota dan seringai kerinduan akan masa depan yang belum pernah mereka lihat. Apa yang mereka cari? Apa yang mereka kejar, Nak? Sementara ada ribuan etalase dan pintu pintu mall yang terbuka dan tertutup setiap kali. Serupa mulut lapar menganga yang rakus mengunyah dan menelan semua kecemasan dan kegalauan yang bersliweran di balik pendar neon papan reklame. Bagaimanakah mereka -orang orang tanpa identitas ini- bisa menafsirkan takdir, relativitas waktu, dan mungkin juga mimpi?
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
Menyedihkan sekiranya di antara parasiswa sebagai terpelajar puncak Pribumi, merasa tak ada sesuatu yang patut dibela pada Pribumi sebangsa sendiri.
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Jejak Langkah (Tetralogi Buru, #3))
β€œ
Bagiku sama saja di mana saja. Di mana ada sahabat, di situlah negeriku. Tanpa sahabat, semua ini takkan tertanggungkan. Di negeri sendiri pun bila tanpa sahabat...
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Jejak Langkah (Tetralogi Buru, #3))
β€œ
Dalam kenyataannya sampai sekarang ini apa kurang cukup banyak orang menggunakan Jesus untuk menindas? Waspadalah.
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Jejak Langkah (Tetralogi Buru, #3))
β€œ
Belajar adalah membaca, utamanya novel dan komik.
”
”
Udo Z. Karzi (Teknokra, Jejak Langkah Pers Mahasiswa)
β€œ
Kata kunci untuk pekerjaan jurnalistik adalah aktualitas.
”
”
St. Sularto (Syukur Tiada Akhir: Jejak Langkah Jakob Oetama)
β€œ
Tugas dokter Pribumi bukan saja menyembuhkan tubuh terluka dan menanggung sakit, juga jiwanya, juga hari depannya. Siapa akan melakukannya kalau bukan para terpelajar? Dan bukankah satu ciri manusia modern adalah juga kemenangan individu atas lingkungannya dengan prestasi individual? Individu-individu kuat sepatutnya bergabung, mengangkat sebangsanya yang lemah, memberinya lampu pada kegelapan dan memberi mata yang buta.
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Jejak Langkah (Tetralogi Buru, #3))
β€œ
Hati bersih dan kemauan baik, dan kemampuan melaksanakannya, justru yang dicari para bandit. Hati bersih dan kemauan baik, dan kemampuan melaksanakannya belum mencukupi, Nyo, Nak. Belum, masih jauh. Dalam kenyataannya sampai sekarang ini apa kurang cukup banyak orang menggunakan Jesus untuk menindas? Waspadalah.
”
”
Pramoedya Ananta Toer (Jejak Langkah (Tetralogi Buru, #3))
β€œ
Langkah Tentukan langkahmu dengan benar dan berusahalah agar pada jejak-jejakmu orang ingin mengikuti dan belajar darimu Kadang orang tidak peduli siapa kamu tetapi apa yang pernah kamu buat.
”
”
Lee Risar
β€œ
REKONSTRUKSI ATHALIA DARI 6 ABSTRAKSI 5. NYANYIAN GELAS YANG PECAH (Abstraksi Teatrikal) Malam ini angin membawa kabar pahit. Seperti suara kampung yang kehilangan lampu, sepotong gelas kristal pecah di tengah rumah hatiku. Ah, Athalia… namamu seperti burung kecil yang dulu hinggap di jemariku dengan percaya. Kini bulunya rontok satu per satu dan aku hanya bisa menatap, tak mampu menangkapnya kembali. Aku pernah menjaga harapanmu seperti petani memeluk benih di dada tanah yang tandus. Tetapi hujan tak datang. Dan tanganku sendiri tanpa sengaja menggugurkan musim itu. Darah menetes pelanβ€” bukan dari luka yang kau buat, tetapi dari marah yang lama kubiarkan mengeras seperti batu sungai. Aku merasa sangkakala kesunyian menderu di ruang dada. Ada pertarungan antara percaya dan putus asa: dua kuda liar saling berkejaran meninggalkan jejak debu di tenggorokan. Namun, wahai diri… siapa yang dapat melawan nasib ketika ia mengetuk pintu seperti tamu tak diundang? Maka kuterima kepedihan dengan langkah pelan seperti aktor tua yang masih menghafal naskah yang tak selesai. Gelas itu pecah. Harapan itu retak. Tapi dari serpih kepingannya aku melihat langit kecil yang masih mau memantulkan cahaya. Dan itulah sebabnya meski dada ini bergetar seperti genderang perang, aku tetap menulis, menamai luka, melagukan sepi. Karena hanya dengan begitu aku tahu aku masih hidup. 6. RUMAH KECIL TEMPAT KENANGAN BERISTIRAHAT (Abstraksi Keintiman Psikologis) Athalia, aku menulis namamu pelan-pelan seperti seseorang yang menyalakan lilin di ruangan yang ingin ia lupakan tapi tak pernah benar-benar ia tinggalkan. Ada saat-saat tertentu di mana kenangan berjalan kembali seperti tamu yang tahu letak gelas dan di mana aku menyembunyikan kerapuhan. Mereka mengetuk pintu, masuk tanpa kuundang, duduk di kursi yang pernah kau pilih sambil menanyaiku hal-hal yang tak sanggup kujawab. Aku ingin berkata semua baik-baik saja. Tapi aku tahu kata-kata itu adalah jembatan rapuh yang dibangun dari cuaca yang serba tak menentu. Ketika gelas kristal itu pecah, tak ada doa yang sanggup memperbaikinya. Tetapi serpihannya masih menyimpan pantulan wajahmuβ€” pelan, nyaris kabur, tapi tetap membuatku berhenti bernapas. Aku marah pada diriku sendiri karena tidak cukup baik menjadi seseorang yang bisa kau percayai. Marah pada waktu karena selalu melangkah lebih cepat dari yang bisa kuikuti. Marah pada nasib karena sering memotong jalan tanpa memperingatkan. Namun paling sering, aku hanya diam. Diam yang panjang. Diam yang mengendap, berat seperti hujan yang enggan jatuh ke tanah. Aku belajar memahami bahwa beberapa luka tidak ingin sembuh. Mereka hanya ingin ditemani. Dan jika ada satu hal yang tak sanggup kuhapus, itu adalah cara kau menatap dunia yang membuatku ingin menjadi versi terbaik dari seseorang yang bahkan belum kukenal dalam diriku. Athalia, ruangan itu masih terbuka. Tidak untukmu kembali, tidak pula untukku berharap. Hanya untuk membiarkan cahaya masuk sedikit lebih jauh agar aku bisa melihat jelas bahwa mencintaimu adalah cara paling lembut untuk belajar tentang luka. Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
NISAN KEEMPAT tanah pesarean hening. angin wetan membawa bau akar basah dan jejak rotasi yang belum hilang. aku berdiri di samping istrimuβ€” tubuhnya goyah seperti daun sawo yang dipagut gerimis. anak-anakmu diam, mata mereka retak seperti kendi tua yang pernah jatuh di pawon rumah. dari kejauhan puisi tercenung ia tak menunduk. tak ikut berduka. ia hanya mencatat luka yang merembes pelan ke tanah liat. kafan menutupi wajahmu. pundakmu dipeluk tanah. suara cangkul terdengar seperti ratap yang tak ingin pergi. seekor prenjak meloncat di ranting randu. sekali. dua kali. hening. lalu terbang ke arah baratβ€” seakan memberi kabar kepada leluhur bahwa satu jiwa telah kembali. asap dupa naik pelan seperti nyala yang kehilangan tuhan. di ujungnya warna abu bergetar mencari arah pulang. β€œRuh…” hanya itu yang sempat keluar. sisanya adalah gumam yang tak sempat menjadi doa. dulu aku kehilangan kangmas Danu tanpa tahu apa artinya mati. lalu aku terlambat kepulangan Bapak. terlambat kepergian Ibuk. kini ketelambatan itu kembali duduk di belakangku seperti bayang waktu yang enggan beranjak. nisanmu ditegakkan. dingin. sederhana. tanpa nama. sepotong batu yang menimbang keberadaan dengan cara yang terlalu sunyi. dari sela tanah angin kecil munculβ€” membawa bau jamur, rumput liar, dan sesuatu yang tak dapat kusebut. mungkin itu suwung, mungkin langgatan, mungkin waskita getar kecil yang tersisa dari tubuhmu. anakmu memanggil pelan. istrimu menggigit bibir. aku menahan napas sebab tak ada kata yang benar-benar bisa mengantar jiwa. geguritan di kejauhan hanya penanda mengambil satu langkah mundur melipat waktu yang berjalan lambat cahaya sore mengiris tubuhnya tipis seperti garis di punggung keris tua. di langit awan bergerak ke selatan. pelan. seperti tangan yang ditangkupkan atau melambai bahwa sesuatu sedang ditutup. dan aku tahuβ€” di bawah nisanmu satu pintu telah terbuka di dalam Syamaloka: pintu gelap yang menghubungkan Danu, Bapak, Ibuk, kau, dan batu nisan berikutnya yang mungkin adalah nisan dari batin kami sendiri. Desember 2025
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
Pandora Apa yang mungkin engkau yakini sebagai hukuman, Kay? Bukankah langkah, semestinya tidak tinggalkan jejak yang kemudian hari ingin engkau ingkari. Kenangan adalah getah yang menitik dari luka sebatang pohon. Sedang ingatan pilu yang terkubur di halaman adalah tulang-tulang yang digali oleh anjing-anjing pencuri di malam hari. Siapa yang akan datang untuk mencintaimu dengan wajah yang carut marut serupa itu, Kay? Tangkapan layar itu tak akan pernah menyatakan kebohongan selain apa yang sengaja engkau niatkan dari semula. Apapun yang coba kau sembunyikan di balik topeng _masquerade_ berenda selamanya tak akan pernah pergi. Kau tak mungkin jadi bunglon yang cukup pintar menyamarkan ketelanjanganmu sendiri. Sebagaimana waktu telanjur menelan seluruh kehadiranmu. Detik demi detik, hari-hari yang telah lalu atau tahun yang akan datang. Engkau tak akan pernah bisa berpaling. Bagaimana kau yakin pada diri sendiri? Semua jejak yang engkau tinggalkan bukan petilasan kebodohan atau artefak kebohongan. Buah terlarang yang dipetik Eva dari taman Eden yang hilang. Telah menjelma menjadi labirin dalam diri anak keturunannya. Ia telah menjelma jadi Pandora! Kotak celaka yang lalu mengutuknya Jadi wanita kesepian seumur hidup! 2024 - 2025
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
META CINTA β€” SUNYA RURI (Fragmentarium Kosmologi Jawa) I. Tanah dan Akar Tanah basah menempel di kaki. Akar bakau membisik, memeluk, menahan, menuntun langkah. Ranting patah berserakan seperti sisa doa yang belum selesai. Batu nisan menggigil, menempelkan dingin es ke telapak kaki. Di dalam tanah, ada bisik yang tak terdengar. Mereka yang telah pergi menatap dari sela akar, menunggu jejak yang belum ditinggalkan. II. Suara Suwung Angin malam menekuk dedaunan, membawa nyala-nyala jauh dari rumah bapak. Suwung hadir: bukan kosong, bukan hampa, tetapi ruang yang menahan segalanya. Bilah pisau membelah udara, memotong batas antara hidup dan mati. Jarak hanya sehembus napas. Di dada, sesuatu berdetak, tanpa nama, tanpa permintaan, tanpa tuntutan. III. Nadi yang Menembus Ia diam. Ia menembus batas antara yang melihat dan yang mencatat. Hangat tanpa cahaya. Pedih tanpa luka. Hadir tanpa wujud. Di sela mantra tanah, di antara dupa gosong dan butir sego golong, kau merasakan nadi yang menolak penjelasan. Bukan kata. Bukan logika. Bukan rasa bersalah. Ia hanya sisa dari semua kehilangan. IV. Litani Kehilangan Subuh hilang ombak. Suluh hilang cahaya. Tubuh hilang nafas. Tabuh hilang bunyi. Aduh hilang nyeri. Repetisi itu bukan hanya kata, tetapi getar yang mencekam nadi: hidup, mati, hadir, hilang, semua tercatat di celah jantung. V. Jejak Kosmologi Di tanah Jawa, di bawah bayang Kalpataru, Suwung hadir bukan sebagai idealisasi, bukan sebagai kekosongan mutlak, tetapi kesetiaan yang tak bersyarat. Di antara serabut akar, tanah basah, dan daun yang jatuh, ada suara leluhur, bisik yang melingkupi. Bayangan pokok kelapa merunduk patah. Ranting kering menyentuh jejakmu. Aroma kemenyan, anyir darah sapi, manis segar cengkir gadingβ€” semua mengikat ruang, menahan waktu, menghadirkan sakral yang tak hanya suci.
”
”
Titon Rahmawan