β
CHARLIE II
(METAMORPHIC VERSION)
Ia muncul bukan dari layar,
melainkan dari sela-sela gelap
di antara kedipan mata kitaβ
tempat pikiran gagal memutuskan
siapa sedang menatap siapa.
Tubuh kecil itu kembali,
bukan sebagai gelandangan komikal,
melainkan sebagai pertapa abstrak
yang menertawakan seluruh peradaban
tanpa membuka bibir.
Setiap langkahnya
adalah mantra yang salah dieja,
menggoyang panggung dengan gerak paling canggung;
jatuh-bangun yang kita sebut komedi,
padahal itu adalah cara semesta
menunjukkan betapa rapuhnya kita:
para penonton yang ingin percaya
hidup adalah aliran peristiwa
yang patut dirayakan
layaknya pesta.
Ia tidak sedang berjalan.
Ia sedang menghapus ingatan
sedikit demi sedikitβperlahan-lahan
seperti seluloid yang terbakar oleh cahaya proyektor
dari dunia yang centang-perentang.
Dalam keheningan hitam-putih itu,
kitalah yang menjadi pantomim:
komik yang berbicara tanpa suara,
mengerti tanpa pemahaman,
tertawa tanpa tahu
siapa yang sedang
ditertawakan.
Charlie,
atau siapapun ia telah menjelma,
telah melampaui nama;
ia menjadi ruang kosong
yang memantulkan wajah
cermin kotor yang menunggu
kita terpeleset dusta
topeng mana yang kita kenakan?
kedunguan apa yang kita perankan?
Ia tak memanggil kita.
Ia mengintai kita.
Ia tahu betapa seriusnya
kita menjalani hidup,
betapa tragisnya kesungguhan itu,
betapa bodohnya kesedihan
yang mengira dirinya istimewa.
Tongkat kecilnya bukan properti panggungβ
itu garis batas antara imajinasi
dan kenyataan
yang ingin kita sembunyikan
dan yang ingin dunia telanjangi.
Setiap putaran adalah meditasi destruktif:
sebuah zen yang retak,
sebuah pencerahan yang salah arah,
sebuah humor yang menusuk jantung
sampai kita lupa apakah kita sedang menangis atau tertawa.
Di titik ini,
tidak ada lagi komedi,
hanya ironi.
Bukan ia yang tampil untuk kita.
Kita yang tampil untuknya.
Kitalah karakter minor,
figuran tak penting
yang sedang terpampang di layar
yang terus berputar bahkan setelah bioskop tutup.
Kita menyaksikan ia menghilang,
padahal yang raib sebenarnya
adalah ilusi
tentang diri kita sendiri:
nama, peran, luka-luka yang kita pelihara,
semua runtuh dalam irama
yang tak pernah ia mainkan,
tetapi selalu kita dengar
dalam kebisuan.
Ketika layar akhirnya memudar,
kita mengira ia telah pergiβ
padahal ego yang tersisa
sebagai jejak bayangan
dalam dunia yang sejak awal
menonton kita
dengan keheningan yang lebih tajam
daripada sayatan pisau.
Tirai menutup.
Namun kesadaran tinggal
menggantung di udara
seperti debu perak seluloid:
kering, dingin, tak bernamaβ
persis seperti apa yang kita cari
dan takutkan selama ini.
2022 - 2025
β
β