Jatuh Bangun Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Jatuh Bangun. Here they are! All 11 of them:

β€œ
Mereka yang menghirup kopi pahit umumnya bernasib sepahit kopinya. Makin pahit kopinya, makin berlika-liku petualangannya. Hidup mereka penuh intaian mara bahaya. Cinta? Berantakan. Istri? Pada minggat. Kekasih? Berkhianat di atas tempat tidur mereka sendiri! Bayangkan itu. Bisnis? Mereka kena tipu. Namun, mereka tetap mencoba dan mencipta. Mereka naik panggung dan dipermalukan. Mereka menang dengan gilang-gemilang lalu kalah tersuruk-suruk. Mereka jatuh, bangun, jatuh, dan bangun lagi. Dalam dunia pergaulan zaman modern ini mereka disebut para player.
”
”
Andrea Hirata (Cinta di Dalam Gelas)
β€œ
Ingat... Hanya mereka yang takut dan mengelola ketakutannya dengan bijak yang mampu menemukan keindahan hidup
”
”
Setia Furqon Kholid (Jangan Jatuh Cinta Tapi Bangun Cinta)
β€œ
Hari ini adalah milikmu satu detik yang lalu adalah sejarahmu
”
”
Setia Furqon Kholid (Jangan Jatuh Cinta Tapi Bangun Cinta)
β€œ
Dikota paling rindu itu,Ningtyas malam senantiasa menjatuhkan pejammu di mataku, mencuriku diam-diam dari mimpi, kemudian menidurkanku diatas bantalan lembut hati. kau perempuanku, jangan tutup pejammu aku takut pada bangun, yang kan membuatmu jatuh kedalam selaput rapuh kabut pagi
”
”
firman nofeki
β€œ
Setelah jatuh, harus bangun! Itulah mengapa setelah kamu jatuh cinta, kamu harus Membangunnya.
”
”
Hilaludin Wahid
β€œ
Satu. Reading bring knowledge, writing brings wisdom. Dalam sebuah karya, ada mimpi, ada proses belajar dan kerja keras. Mimpi dibangun oleh aksi nyata, yang selalu ada proses belajar didalamnya. Tidak ada mimpi yang sia-sia, jika ada aksi nyata. Dan tidak ada aksi nyata yang mulus-mulus saja. Semua ada prosesnya, jatuh-bangun-jatuh-bangun. Sesungguhnya keberhasilan adalah kesanggupan kita untuk berdiri lagi setelah jatuh karena tidak ada sukses tanpa rasa "sakit". Tetapi mimpi yang terwujud pasti melibatkan jejaring yang kita miliki. Karena tidak ada karya sukses yang sendirian. Pada akhirnya karya yang sesungguhnya adalah yang mempunyai manfaat untuk diri sendiri dan sesama
”
”
Ainun Chomsun
β€œ
Sebagaimana kita tidur harus bangun, begitu juga apabila jatuh. Jangan pernah takut dengan kejatuhan, ianya bukan satu penghalang mencapai kejayaan. Tapi harus takut jika gagal kembali bangun.
”
”
A.D. Rahman Ahmad
β€œ
Dalam usaha, jatuh-bangun itu telah biasa. Asal kita punyai kemantapan, keyakinan dan keuletan, tentu akan bangkit lagi. Jangan hingga kita menyerah,
”
”
m salim bupati rembang
β€œ
Orang yang masa mudanya jatuh bangun, maka masa tuanya cenderung aman. Sebaliknya, orang yang masa mudanya cenderung aman, maka dimasa tuanya akan jatuh bangun. Maka selagi muda, penuhilah hidup dengan pengalaman dan tantangan.
”
”
Fauziah Fillaily
β€œ
Keberhasilan hanya berarti bila ia lahir dari luka dan kegagalan; tanpa jatuh, bangun hanyalah omong kosong belaka!
”
”
Titon Rahmawan
β€œ
CHARLIE II (METAMORPHIC VERSION) Ia muncul bukan dari layar, melainkan dari sela-sela gelap di antara kedipan mata kitaβ€” tempat pikiran gagal memutuskan siapa sedang menatap siapa. Tubuh kecil itu kembali, bukan sebagai gelandangan komikal, melainkan sebagai pertapa abstrak yang menertawakan seluruh peradaban tanpa membuka bibir. Setiap langkahnya adalah mantra yang salah dieja, menggoyang panggung dengan gerak paling canggung; jatuh-bangun yang kita sebut komedi, padahal itu adalah cara semesta menunjukkan betapa rapuhnya kita: para penonton yang ingin percaya hidup adalah aliran peristiwa yang patut dirayakan layaknya pesta. Ia tidak sedang berjalan. Ia sedang menghapus ingatan sedikit demi sedikitβ€”perlahan-lahan seperti seluloid yang terbakar oleh cahaya proyektor dari dunia yang centang-perentang. Dalam keheningan hitam-putih itu, kitalah yang menjadi pantomim: komik yang berbicara tanpa suara, mengerti tanpa pemahaman, tertawa tanpa tahu siapa yang sedang ditertawakan. Charlie, atau siapapun ia telah menjelma, telah melampaui nama; ia menjadi ruang kosong yang memantulkan wajah cermin kotor yang menunggu kita terpeleset dusta topeng mana yang kita kenakan? kedunguan apa yang kita perankan? Ia tak memanggil kita. Ia mengintai kita. Ia tahu betapa seriusnya kita menjalani hidup, betapa tragisnya kesungguhan itu, betapa bodohnya kesedihan yang mengira dirinya istimewa. Tongkat kecilnya bukan properti panggungβ€” itu garis batas antara imajinasi dan kenyataan yang ingin kita sembunyikan dan yang ingin dunia telanjangi. Setiap putaran adalah meditasi destruktif: sebuah zen yang retak, sebuah pencerahan yang salah arah, sebuah humor yang menusuk jantung sampai kita lupa apakah kita sedang menangis atau tertawa. Di titik ini, tidak ada lagi komedi, hanya ironi. Bukan ia yang tampil untuk kita. Kita yang tampil untuknya. Kitalah karakter minor, figuran tak penting yang sedang terpampang di layar yang terus berputar bahkan setelah bioskop tutup. Kita menyaksikan ia menghilang, padahal yang raib sebenarnya adalah ilusi tentang diri kita sendiri: nama, peran, luka-luka yang kita pelihara, semua runtuh dalam irama yang tak pernah ia mainkan, tetapi selalu kita dengar dalam kebisuan. Ketika layar akhirnya memudar, kita mengira ia telah pergiβ€” padahal ego yang tersisa sebagai jejak bayangan dalam dunia yang sejak awal menonton kita dengan keheningan yang lebih tajam daripada sayatan pisau. Tirai menutup. Namun kesadaran tinggal menggantung di udara seperti debu perak seluloid: kering, dingin, tak bernamaβ€” persis seperti apa yang kita cari dan takutkan selama ini. 2022 - 2025
”
”
Titon Rahmawan