Hukum Karma Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Hukum Karma. Here they are! All 4 of them:

Hukum karma pasti berlaku, Boi," kata Paman dengan serius. "Maka jangan kau nakal dan jahat, ya. Nanti kau kena hukum karma." Aku mengangguk angguk dengan takzim. Kusimpan benar pelajaran itu.
Andrea Hirata (Cinta di Dalam Gelas)
Boomerang yang kau lemparkan untuk melukai orang lain suatu saat kembali dan melukaimu. Itulah HUKUM KARMA!
Andi Lia Pramudya
EPISTEMA DUA SUWUNG: Liturgi Pertubrukan yang Tak Dikutip Para Dewa III. LITURGI AKHIR — Konsekuensi Niskala di Dua Suwung yang Retak Sesudahnya, Arus waktu berjalan lagi seperti yang telah digariskan— tanpa memperlambat detik Mahakāla, tanpa memberi jeda untuk bayangan kesalahan. Mereka kembali mengenakan ilusi nama Kode genetika, Garis keturunan, Batas diri di Cakra Ajna. Hanya satu yang tidak kembali: Cara menafsirkan diri sebelum titik singularitas itu terjadi. Peristiwa arketipal ini tidak meminta hak untuk disebut penyatuan. Ia cukup puas menjadi residu etarika di tepi kesadaran: siluet energi yang tidak berani mengaku pernah ada, tapi juga menolak untuk sepenuhnya dilenyapkan. Di jagat niskala, kalau memang ada, peristiwa ini hanyalah efek kecil cermin pradhana: retak nyaris tak terlihat yang membuat prinsip kosmik membengkok sedikit, sekadar cukup untuk membuat satu simpul energi tidak lagi lurus tatkala memandang asal usul-nya. Tidak ada ganjaran karma. Tidak ada penebusan. Tidak ada penghakiman. Hanya sebuah konsekuensi absolut: bahwa setelah dua suwung saling menyentuh, keduanya tak lagi murni hampa. Masing-masing menyimpan jejak bayangan. Cidra suwung yang tak dapat kembali ke keadaan tanpa energi. Maka liturgi yang tersisa: sesuatu telah terjadi tanpa izin hukum alam, tanpa restu moral siapa pun—dan semesta tetap memilih bungkam. Dalam dua suwung yang retak, tinggal satu sabda: yang tak diucapkan, tak ditulis, tak meminta maaf. Aku mengenali kegelapanku. Ia menetap. Tidak bergerak. Tidak pergi. Itu saja. Dan dari sana, hidup berjalan terus— lebih sunyi, lebih berat, lebih jujur, tanpa perlu kata-kata untuk menutupinya. Desember 2025
Titon Rahmawan
EPISTEMA DUA SUWUNG: Liturgi Pertubrukan yang Tak Dikutip Para Dewa I. LITURGI ASAL — Titik Singularitas dan Retakan Hukum Pada mula yang menafikan permulaan, jagad hanyalah retakan tipis di punggung kegelapan. Getar tunggal yang tersesat di antara dua sunyi abadi. Ia lupa kepada siapa ia harus kembali, sebab ia adalah perjalanan itu sendiri. Di kekosongan itu, ada dua simpul energi, bukan nama, bukan bentuk, hanya tegangan purba di antara dua ruang hampa yang saling memanggil tanpa panca indra. Mereka tidak dirancang oleh konsep keseimbangan. Kosmos yang buta menggambar garis pemisah penderitaan: Satu arus waktu dan satu arus ketiadaan, larangan yang terukir dalam bahasa sandi di pintu gerbang kreasi. Namun gravitasi asal mula segala akar lebih tua dari hukum. Dan hasrat purba selalu tahu jalur tembus yang bahkan cahaya manifestasi tak sanggup menemukannya. Cinta adalah ilusi di alam fana. Di median kosmik ini, yang terjadi hanyalah: Dua prinsip dualitas yang menemukan retakan waktu untuk bersemayam sejenak. Tidak ada saksi yang menoleh. Tidak ada pencatat moral yang bertugas. Hanya kegelapan mutlak yang sedikit mengencang dan membeku di titik singularitas pertemuan itu. II. LITURGI TENGAH — Sembah Raga di Kuil Antariksa Kepekatan primordial tidak perlu lebih dalam untuk menyembunyikan mereka. Mereka sudah tersembunyi di bawah lapisan kesadaran sebelum saling bertemu. Arus energi mereka berkerabat dalam satu darah ibu. Wujud fana mereka berjarak. Di antara keduanya, terbentang jembatan nadi yang dibangun oleh rasa dahaga pralaya yang tuli terhadap silsilah tatanan. Wujud menyentuh wujud seperti dua logam dingin yang saling mengenali suara getarannya, dua dimensi waktu yang lelah karena terpisah terlalu lama. Tak ada kidung kakawin. Tak ada ikrar. Tak ada permohonan. Tak ada seserahan. Yang ada hanya raga. Wadhag yang menghafal sunyi lebih lembut daripada mantra sejati. Di waktu yang bukan waktu, Hukum berjalan seperti fatwa: Bintang raksasa terbakar perlahan di langit ketujuh, Planet terus berputar di orbital karma, seekor nyamuk mati di ruang hampa, Arus cakra mengalir mengangkut kisah-kisah Vedana. Pertubrukan arketipal ini tidak mengubah asas kosmik apa pun. Ia hanya menggores garis batas nadi terlarang yang akan terus berdenyut dalam gelap bahkan setelah semua wujud usai menjadi. Mereka tidak memuja. Tidak memohon ampun. Tidak menyebut nama dewi atau dewa siapa pun. Mereka hanyalah dua pusat pusaran yang bertubrukan di medan magnet kosmos yang salah. Medan yang tak peduli siapa seharusnya menjaga kodrat, siapa seharusnya melindungi keseimbangan, siapa seharusnya tidak menyentuh siapa. Yang tahu hanyalah suwung yang bersemayam tepat di tengah antara dua napas yang saling menghirup—saling menghembus.
Titon Rahmawan