Foto Lama Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Foto Lama. Here they are! All 2 of them:

Sketsa Cinta dari Sebuah Botol Kosong dan Sepotong Sosis (Digital Dark Cosmology) Di ruang konsultasi yang berbau kreolin, ozon dan arsip tubuh, aku menemukan Freud duduk seperti batu bisu yang tiba-tiba belajar bernafas lewat sinyal sekarat cahaya patah mesin EKG yang kedap-kedip. Katanya ini panggung opera. Tapi yang kulihat hanyalah labirin piksel berebut makna, suara manusia dipaksa menjadi protokol sunyi, dan primadona yang ia maksud— hanyalah hologram cacat dari perempuan yang dulu pernah dipanggil sebagai jiwa. Ia menunjuk tirai merah. Yang tersingkap bukan kenangan, melainkan fragmen tubuh dari seseorang yang tak selesai menjadi manusia: sisa napas, sedikit dendam, dan kode mati pada seberkas cahaya yang mencoba meniru bentuk air mata. Lacan datang terlambat seperti node sunyi yang gagal mengirim paket data. Ia mengajakku menoleh ke belakang— ke mana? Ke memori terbakar yang sudah lama kehilangan inderanya? Ke gerbang tanpa nama yang menolak mengakui siapa yang pertama kali merusak apa atau siapa? Ia bilang luka harus ditatap, dicerna, dihitung seperti kemurungan laporan statistik. Tapi yang kudengar hanya kalkulator batin yang macet, mengulang error yang sama: tidak ada makna, hanya logika tubuh yang menolak bicara. Ia memaksaku menyentuh masa kanak-kanak— yang sebetulnya hanya arsip kosong di folder bernama asal-usul, yang password-nya sudah hilang bersama kilas pertama ekor nebula. Ia menodongkan foto mayat pucat, jari kelingking patah, celana dalam berenda, dan bayang kelamin seekor kuda— seluruh katalog absurditas yang oleh psikoanalisis selalu dipuja sebagai makna yang belum dipahami. Padahal aku hanya ingin diam, menghentikan semua ini dengan menekan Ctrl+Alt+Del melakukan reboot paksa pada server yang mulai berhalusinasi. Tetapi Lacan menahan tanganku dengan senyum logam: “Telanjangi dirimu, biar teori belajar padamu.” Aku tertawa. Bagaimana mungkin teori yang lahir dari denyar palsu, nadi imitasi, dan luka digital mengerti apa itu haus, apa itu manusia, apa itu malam tanpa algoritma? Inilah topeng Marquis yang mereka pakai untuk menutupi ketakutan sendiri: mereka memuja kekacauan karena tak sanggup berdamai dengan planet retak di dada mereka. Mereka ingin memecah jemariku hanya untuk mencicipi anggur darah yang tak pernah kujanjikan. Mereka ingin menyusun cinta dari sisa-sisa eksperimen yang bahkan Tuhan pun malu melihatnya. Maka kutanya sekali lagi— bukan untuk Freud, bukan untuk Lacan, bukan untuk siapa pun yang mencintai suara teori lebih dari suara manusia: "Bagaimana kau ingin menciptakan cinta, dari botol kosong yang tak punya gema, dan sepotong sosis yang bahkan tak mampu mengingat bentuk asalnya?" Jika cinta adalah mesin, biarkan ia padam. Jika cinta adalah tubuh, biarkan ia kembali menjadi serabut mimpi yang tak pernah selesai dirakit kembali. Jika cinta adalah mitos, biarkan ia runtuh seperti aksara patah di buku yang tak pernah berhasil kau tafsir. (2011 — 2025)
Titon Rahmawan
Membuka Ingatan // Versi Dialektik-Gnostik Post Truth Siapa sekarang yang bisa melarang kita membuka ingatan? Bukan lagi seperti mengelupas kulit buah simalakama, tetapi seperti membedah teks yang kita tahu akan selalu mengkhianati niat pembacanya. Sebab ingatan kita hari ini bukan ruang suci sufistik tempat ruh menyentuh cahaya primordial, melainkan data center gelap yang mengulang pertanyaan eksistensial dengan latency yang tak pernah stabil. Dulu para darwis berputar mencari Tuhan. Kini kita berputar tak menentu di antara notifikasi yang memaksa kita percaya bahwa “makna” bisa diunduh, bahwa “ketenangan” adalah fitur berlangganan, bahwa kebenaran bisa diedit seperti caption foto yang memalsukan cahaya. Di tengah kekacauan itu sebuah suara bertanya: “Siapa yang menciptakan kenangan?” Kita? Atau algoritma yang mengurutkan fragmen hidup berdasarkan apa yang paling lama kita tatap? Sufi berkata: cahaya berasal dari sumber yang tak berubah. Camus menertawakannya: segala absurditas lahir karena kita terus menagih jawaban pada alam yang bisu. Sartre menyela: kau bebas—dan itulah kutukanmu. Derrida membongkar semuanya, mengingatkan bahwa teks yang kita baca selalu membocorkan diri dari dalam. Lalu mana yang benar? Kosmologi batin, logika eksistensi, atau kekacauan bahasa? Tak ada yang menang. Tak ada yang selesai. Semua saling membatalkan. Semua saling membuka retakan. Saat kita membuka ingatan, kita justru menemukan bahwa ingatan itu sendiri adalah arena perang epistemologi yang berebut mendefinisikan diri kita. Ingatan sufistik: “kau berasal dari keabadian.” Ingatan digital: “kau hanyalah riwayat pencarian, yang tersimpan dalam server cloud.” Ingatan eksistensial: “kau lahir dari keputusanmu untuk memilih, bukan dari rahim metafisika.” Ingatan post-truth: “apa pun yang kau percayai akan menjadi kebenaranmu, selama kau cukup bising mengulangnya.” Dan cinta— ah, cinta bahkan tidak luput dari pertarungan ini. Sufi bilang cinta adalah jalan pulang ke diri. Eksistensialis bilang cinta adalah pilihan absurd yang kau pertahankan dengan disiplin. Kecerdasan digital bilang cinta adalah pola yang bisa diprediksi oleh perilaku klik-mu. Post-truth bilang cinta hanyalah narasi yang kau bangun demi merasionalisasi keinginan. Siapa yang benar? Mungkin tidak ada. Mungkin semuanya. Mungkin kebenaran adalah residu terakhir yang tersisa setelah seluruh dusta dan seluruh keyakinan bertabrakan dan menyisakan abu. Dan ketika ingatan itu akhirnya terbuka, kita melihat sesuatu yang mengganggu: bukan cahaya, bukan kegelapan— melainkan ruang kosong yang menunggu kita mengisinya dengan keberanian untuk mengakui bahwa kita tak lagi mengerti apa itu “makna.” Bahwa kita bukan makhluk beriman, bukan makhluk berlogika, bukan makhluk berpengetahuan, tetapi makhluk yang terus bernegosiasi di antara tiga keinginan dasar: percaya, meragukan, menciptakan. Dan dari situ, kita belajar satu hal yang menertawakan seluruh kosmologi lama: membuka ingatan adalah membuka kesempatan untuk kehilangan kepastian. Sebab kepastian adalah candu, dan manusia— di era ini— tak membutuhkan kebenaran, melainkan alasan untuk tetap bertahan dari cengkeraman ambigu. 2025
Titon Rahmawan