Forum Romanum Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Forum Romanum. Here they are! All 3 of them:

certain curiosity on that swarm of people and on that Forum Romanum, which both
Henryk Sienkiewicz (Quo Vadis: a narrative of the time of Nero)
Frontinus, in his treatis On the Water Supply of the City of Rome, writes that “the memory of the springs is still considered holy and revered; indeed they are believed to restore sick bodies to health, such as the spring of the Camenae, and … that of Iuturna.”20 A question arises, however, as to why the Vestals did not fetch their daily water at the closer lacus Iuturnae. Two reasons come to mind. First, the Vestals, walking through the city to fetch water, must have made quite an impression. They were recognizably different from other women, but at the same time, they were doing women’s work. Most likely, fetching water would be only one aspect of their daily duties, but it was one that took them outdoors, thus making them visible. Since it was part of a routine, the water fetching might have taken place at the same time every day. Second, before its springs fed into a marble basin, the lacus Iuturnae was, as the Latin word lacus suggests, a pool. The whole forum Romanum area was prone to floods, and one can but imagine rather swampy and unhealthy conditions. This fact did not, however, seem to impede the water quality of the Iuturna. Like the Camenae, according to Frontinus, it had salutary effects. According to tradition, the Dioscuri, Castor and Pollux, watered their horses at the Iuturna. Indeed, like any creature, thirsty horses drink stagnant water when no other water is available, and so the poor condition of the water might not have been a deterrent. The Camenae, whose water was considered especially good,21 was linked to Numa. According to tradition, in the grove (lucus) where the spring (fons) of the Camenae was, Numa conversed with Egeria, a water nymph with mantic powers. She became the king’s major inspiration. Water flowing (fons), rather than standing water in a pool (lacus), moved spirits and intellects. For the Romans, Numa was first to organize Roman religion, and this he did with the help of a prophesying nymph.
Sarolta A. Takács (Vestal Virgins, Sibyls, and Matrons: Women in Roman Religion)
MESSALINA — DAMNATIO MEMORIAE Sejarah tidak menghapus namaku. Ia hanya mengaburkan garis wajahku dengan lumpur pasar Roma bau anyir selokan Forum Romanum yang mengalir lambat di bawah kaki patung kaisar. Namaku bukan dosa— namaku hanya terlalu mudah dipakai untuk menambal rasa takut mereka pada perempuan yang terlalu berani menyatakan hasratnya sendiri. Apa yang mereka ceritakan tentangku lebih menjijikkan dari bangkai ikan yang membusuk di Emporium pada musim panas yang kejam. Mereka menempelkan tubuhku pada tetes keringat prajurit Germania pada dinding-dinding Lupanaria, di antara jamur dinding dan napas para lelaki yang membeli kehangatan seperti membeli roti keras di sudut jalan. Aku tidak sedang menyangkal diri— tetapi Roma, Roma selalu memproyeksikan nafsunya sendiri ke tubuh perempuan. Meminjam kulitku untuk menjelaskan bayangan setan di kepala mereka, lalu menyalahkanku karena kulitku terlalu hidup. Di lorong istana yang lembap, di balik tirai berat berdebu anggur merah, aku mendengar namaku menjadi mata uang: Messalina adalah ancaman, Messalina adalah legenda, Messalina adalah sarang dosa yang mereka perlukan agar dunia tetap merasa suci. Apakah aku sudah melampaui Scylla, pelacur yang menjual kehormatannya demi keping Sprintia? Apakah aku terlalu bodoh untuk menggadaikan tilam sutra Palatium demi tikar lusuh Lupanarium? Saat kautemukan kebenaran dari apa yang tidak kaulihat, apa yang kaudengar melampaui raungan para gladiator di Collosseum. Tidakkah kalian tahu bau malam Roma yang sebenarnya? Tikus-tikus gemuk di Subura, teriakan prajurit mabuk, koin-koin sestertius yang jatuh di lantai batu, lalu darah yang diseka dengan kain murahan. Itulah Roma. altar tempat tubuh-tubuh perempuan dipersembahkan untuk menenangkan rasa bersalah para lelaki. Mereka memanggilku nymphomania— padahal yang sebenarnya mereka sangkal adalah perempuan yang tidak menunggu dipilih oleh siapa pun. Tak ada yang lebih menggigilkan jiwaku selain puisi sepotong grafiti, yang bertuliskan seperti ini: "Di sini aku telah menyetubuhi banyak laki-laki..." Benar, aku telah tidur dengan bayangku sendiri lebih sering daripada tidur dengan lelaki. Tapi cerita itu terlalu sunyi untuk zaman yang membutuhkan monster perempuan demi menghibur diri. Lalu mengapa aku mengakhiri hidup? Bukan karena hinaan. Bukan karena skandal. Aku hanya menyadari bahwa kematian lebih jujur daripada sejarah yang menuliskan tubuh tanpa pernah mendengar suara. Mereka ingin menghancurkan namaku, tetapi justru membuatnya abadi— seperti grafiti di dinding Pompeii yang tak bisa dihapus bahkan oleh lava gunung berapi. Aku Messalina. Bukan monster jelita yang kalian ciptakan. Aku hanya retakan kecil di dinding peradaban yang terus mengingatkan: bahwa tubuh perempuan sengaja dijadikan cermin bagi dosa yang tak selalu miliknya. Desember 2025
Titon Rahmawan