Demi Masa Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Demi Masa. Here they are! All 26 of them:

Sejarah ingin agar kita tidak mengulangi kesalahan pada masa silam dan mengambil pelajaran guna membangun masa kini. Ia ingin agar kita mengambil segi-segi positif yang dimiliki masa lalu dan berusaha menghindari segi-segi negatifnya demi menggapai masa depan yang lebih baik dan cerah.
Yusri Abdul Ghani Abdullah (Historiografi Islam: Dari Klasik Hingga Modern)
Demi matahari senja yang menggantung manis manja di cakrawala, demi kebaikan dan ketulusan yang telaten diberikan semestas, dan demi ragam nama-nama Tuhan baik yang akrab maupun asing di telinga kita, sesungguhnya, manusia, adalah mahkluk yang merugi. Kecuali, ia yang mau belajar pada masa silam, berbuat yang terbaik di masa sekarang, dan menyiapkan segala sesuatu di masa depan, dengan keyakinan paling yakin pada terwujudnya sebuah impian.
Lenang Manggala (Perempuan Dalam Hujan)
Pandang ke hadapan demi masa depan. Toleh kebelakang sebentar apabila perlukan kekuatan. Jangan meratap apa yang berlaku
Fazi Fuad
Hiduplah di masa kini demi kebahagiaan yang ada. Nantikanlah masa depan demi kebahagiaan yang masih belum ditemui. Renungkanlah masa lalu demi kebahagiaan yang baru disadari saat telah berlalu.
Miye Lee (Dallergut: Toko Penjual Mimpi 2)
Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru. Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya. Barang siapa belum merasakan pahitnya belajar walau sebentar, Ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya. Dan barang siapa ketinggalan belajar di masa mudanya, Maka bertakbirlah untuknya empat kali karena kematiannya. Demi Allah hakekat seorang pemuda adalah dengan ilmu dan takwa. Bila keduanya tidak ada maka tidak ada anggapan baginya. Ilmu adalah tanaman kebanggaan maka hendaklah Anda bangga dengannya. Dan berhati-hatilah bila kebanggaan itu terlewatkan darimu. Ketahuilah ilmu tidak akan didapat oleh orang yang pikirannya tercurah pada makanan dan pakaian.
Imām aš-Šāfiʿī
Jkt 20/12/2012 Bulan ini bulan desember,spt juga desember thn2 sebelumnya pada bulan ini umat kristiani mempunyai hari besar semacam tradisi tahunan yaitu yg di sebut "Natal" atau Natale (italia) atau Christmas,dan sebagai penganut kirstiani sejak lahir saya selalu menikmati bulan2 desember spt ini tiap tiap tahunnya,saya selalu menikmatinya didalam hati saya,apalagi saat saya masih kanak kanak dulu,karena natal identik dengan hadiah untuk anak2,desember adalah menjadi bulan yg paling saya tunggu2 karena pada bulan itu akan ada sebuah kado yang menunggu saya pd bulan itu,akan ada gemerlap cahaya lampu pohon dan hiasan hiasan natal lainnya,saya akan memakai baju baru juga saya akan tampil dipanggung gereja memainkan fragmen dan drama natal bersama anak2 lainnya yang juga memakai baju baru yg menambah kesan natal semakin saya tunggu, Saya lahir di Indonesia saya tinggal di Indonesia saya bersekolah di Indonesia,negara yg mempunyai beragam agama yg mana agama2 itupun mempunyai Hari besar nya masing2,sejak masih kanak2 saya selalu terharu ketika melihat org lain berdoa entah dengan memakai tata cara agama apa mereka berdoa yg jelas saya selalu merasa ada suatu hal yg berbeda dlm hati saya ketika melihat org berdoa itu,saya bersahabat dgn beberapa teman saya orang2 keturunan yg beragama Budha,sy juga punya beberapa sahabat org Bali dan keturunan India yg beragama Hindu,walaupun jumlah mereka tidak sebanyak sahabat2 saya dari kaum Muslim,Muslim adalah mayoritas di negri ini otomatis muslimlah yg hampir 90% dari mereka setiap harinya berinteraksi dengan saya, lebih dalam lagi saya pun mempunyai banyak family sedarah dari kakek saya yg beragama muslim,tidak heran kalau sy pun menikmati hari raya Idul fitri,dan tidak jauh berbeda dengan natal momen Lebaran adalah menjadi hari yg saya tunggu2 juga, karena setiap tahunnya saya akan berkumpul dgn sanak family dan kerabat merasakan ketupat lebaran dan opor ayamnya juga saya bisa meminta maaf dan bersalaman dengan orang yg pernah bertengkar dengan saya dengan ucapan minal aidin walfaidzin,luar biasa hubungan batin saya dengan muslim sepertinya suatu hal yg tidak bisa terpisahkan,tetapi diluar daripada itu semua terjadi dilema dalam hidup saya ketika saya menyaksikan hal2 lain yg "mengusik mesranya hubungan saya dengan muslim,di saat yg sama berita di media masa sebegitu hebatnya memberitakan hal yang menumbuhkan opini2 perpecahan yang semakin hari semakin jauh dari kata "damai" dimana pandangan yg berbeda tentang Tuhan adalah menjadi alasan untuk pendidikan perang! sehingga seolah olah memaksa manusia siaga satu dan siap untuk membenci saat ada kaum yg berbeda dengan mereka,saya muak dengan ini, Keperdulian saya dgn keharmonisan keduanya Membuat saya tertarik utk "mencari tau tentang isi dari kedua agama ini,dgn hati yg bertanya tanya ada apa sebenarnya yg terjadi di dalamnya?,dengan segala keterbatasan saya bertahun tahun saya mencoba mencari titik temu antara perbedaan dan persamaan antara kristen dan islam,rasa ingin tau saya yg membuat saya sedikit demi sedikit menggali keduanya mulai dari sisi sejarah,segi terminologi,sisi tafsir2 atau doktrin (aqidah) nya,dgn mencari sumber2 yg akurat atau dengan cara bertanya,berdiskusi dll,sy tidak terlalu tau apa tujuan dan visi saya tapi yg jelas saya tertarik untuk mengetahuinya dan kadang saya lelah!saya merasa terlalu jauh memikirkan ini semua,saya merasa agama yg seharusnya memproduksi kedamaian dan cinta thd sesama malah membuat saya pusing dan muak karna saya koq malah pusing memikirkan konflik2 dan benturan2 yg justru disebabkan oleh agama itu sendiri Seiring berjalannya waktu pemahaman saya terhadap natal dan bulan desember itupun mulai terpisah,saya sudah mempunyai pemahaman sendiri mengenai natal,Desember hanyalah salah satu bulan dari 12 bulan yg ada,tetapi damai natal itu sendiri harus berada dalam sanubari dan jiwa dan roh saya setiap hari, "Selamat Natal Damai Selalu Beserta Kita Semua" Amien.........
Louis Ray Michael
Ibu-lah yang telah menyuruhmu tinggal di tempat jauh. Ibu-lah yang mengirimimu tinggal di kota pada usia muda, jauh dari kampung halamanmu. Ibu pada masa-masa itu - dengan pedih kau sadari bahwa Ibu seusia dengan dirimu saat ini, sewaktu dia membawamu ke kota, lalu pulang dengan naik kereta api malam. Seorang perempuan... hanya sendirian. Dan sosok perempuan itu lenyap, sedikit demi sedikit, setelah melupakan rasa suka cita karena telah dilahirkan, melupakan masa kanak-kanaknya serta impian-impiannya, menikah sebelum mendapatkan menstruasi pertamanya, lalu melahirkan lima orang anak dan membesarkannya. Perempuan yang - setidaknya kalau mengenai anak-anaknya - tidak merasa terkejut atau bingung akan apa pun. Perempuan yang hidupnya ditandai dengan pengorbanan sampai saat dia menghilang. Kau membandingkan dirimu dengan Ibu, akan tetapi Ibu sungguh tak bisa dibandingkan dengan apa pun. Seandainya kau berada dalam posisi Ibu, kau tidak akan melarikan diri seperti ini, lari dari rasa takut.
Kyung-Sook Shin (Please Look After Mom)
Kadang, kita hanya perlu kalem pada masa-masa kelam bukan tenggelam. Demikianlah masa! demi kita.
roki j
Di tahun terakhir masa putih abu-abu, aku terpaksa ikut melakukan hal yang nyaris mustahil. Belajar siang malam demi mendapat bangku universitas padahal sedang sayang-sayangnya pada masa SMA
Lucia Priandarini (Posesif)
Biografi tubuh inilah yang terasa dalam 40 sajak di kumpulan puisi Pandora ini. Lihatlah bagaimana ia mengurutkan sajak-sajak di buku ini. Dari mulai Ulat, Kepompong, Kupu-kupu, 1967, dan sajak-sajak yang mengeksplorasi tema anak (Embrio, Schipol, Pasha, Den Haag), hingga Rahib dan Jejak. Deretan sajak itu tampak seperti sebuah metamorfosis tubuh. Tubuh, di tangan penyair kelahiran ini, keluar dan bahkan meloncat dari bentuk estetiknya. Ia memperlakukan tubuh bagai sebuah menu santapan (Di meja makan kusantap tubuhku, kuteguk air mataku—sajak “Kepompong”). Inilah ketangkasan seorang Oka. Ia menulis, memendam Bali, mencangkul masa lalu, membenturkan tradisi, meringkus pengalaman hidup, dan dengan tanpa sungkan menggasak tubuhnya sendiri demi memperoleh sebuah ars poetica. Inilah “sayap kuat” sajak-sajak Oka, penulis yang menurut saya, menjadi salah satu wakil terpenting penyair Indonesia mutakhir. (Yos Rizal Suriaji- “Sebuah Menu Bernama Tubuh”-2008)
Oka Rusmini (Pandora)
Dari “Di Hadapan Babylon” pun kita belajar bahwa maut tak selalu datang dengan sabit berkilat dan jubah hitam yang kerap menyembunyikan muka. Maut bisa saja datang dengan berondongan timah panas, tendangan sepatu lars, pucuk bayonet, pisau belati, atau anggaran subsidi beras miskin yang mesti dipangkas demi pembelanjaan Alutsista yang lebih mutakhir.
Fajar Nugraha (C-45 Demi Masa, Kapsul Waktu, dan Nostalgia Radikal)
riwayat Calon Arang, dikisahkan kini sebagai perempuan korban patriarki, mungkin memang ada peristiwa nyata di Kerajaan Erlangga abad kesebelasan, lalu mengalami berbagai distorsi kemudian mengalami Bali-nisasi. Sementara persepsi masa kini mendudukkannya tanpa pretensi kebenaran sejarah hanya demi rehabilitasi dan empati dalam rentang waktu dan keabadian: secuil kebenaran dan keadilan.
Toeti Heraty (Calon arang: Kisah perempuan korban patriarki : prosa lirik)
Ingin rasanya mempercepat waktu, membagi diagonal-diagonal sisi dekade ke dalam batas-batas simetri satuan hari, menciptakan dimensi-dimensi cahaya yang bergerak cepat dalam mengarungi lautan mimpi yang terukir indah dalam lamunan ilusi, memancarkan gelombang fantasi yang merambat dengan frekuensi tinggi, mampu menembus tebalnya dinding piramida bahagia. Kesemuanya, hanya demi satu tujuan, mempersingkat daya jelajah ke titik klimaks, menuju kondisi real di masa depan
Ikhsan Hee
kamu seperti jarum jam yg bergerak pelan dan tetep kutunggui detik demi detik bahkan aku tidak peduli sebosan apa aku melewatinya, mataku tetap fokus menatap tanpa lepas aku hanya yakin akan sampe pada masa di mana satu titik ditempati dua jarum,laksana aku dan kamu, kalimatmu dan kalimatku yang seia sekata. namun kamu bukan jarum jam yang bergerak statis kakimu kadang berputar, berbelok, merenggang menjauhkan jarak walau tetap menangkap pandangku saat itulah dudukku mulai gelisah dan kamu tidak tau itu hingga aku putuskan untuk berdiri dan pergi meninggalkan kamu yang bergerak tanpa arah aku sudah berjalan menjauh,menahan diri untuk tidak menoleh ke arahmu dan tidak tau apa kamu memanggilku atau membiarkanku. yang aku tahu, matahati di ujung jalan masih berwarna kuning mengawalku _wasiman waz
WAZ
Dulu vs Sekarang: Warisan yang Hampir Hilang Zaman dulu ada seorang bocah naik sepeda berkilo-kilo, hanya untuk sampai ke sekolah di luar kampungnya. Ada anak lain yang mesti berjalan sampai kaki pegal ke rumah temannya hanya untuk meminjam buku bacaan. Tapi anehnya, mengapa anak sekarang malas melangkah? Malah merasa bangga disebut kaum rebahan. Mereka juga malas membaca padahal semua ilmu ada di genggaman layar kaca. Orang dulu mengumpulkan receh demi membeli sebidang lahan, membangun rumah sedikit demi sedikit, lantainya mungkin tanah, atapnya sering bocor, tapi ada mimpi yang mereka renda di atas atapnya, harapan yang mereka pahat di setiap dindingnya. Lalu bagaimana orang sekarang melihat dirinya? Bekerja sepuluh tahun pun, rumah masih berhenti sebatas imajinasi. Gaji pertama langsung ludes dalam gebyar pesta perayaan semalam dan cicilan gawai terbaru. Air minum, bagi orang dulu, direbus penuh sabar di tungku kayu— sisa panasnya dipakai untuk berdiang menghangatkan tubuh. Bagi orang sekarang, air minum harus bermerek; Cappucino, espresso, latte atau matcha boba kekinian dikemas dalam plastik sekali pakai, diminum bukan karena haus, tetapi agar terlihat keren saat di foto. Barang orang dulu awet seperti doa: sepeda diwariskan, lemari antik dipelihara, kain batik disimpan hingga pudar warnanya. Barang orang sekarang sekali lewat hanya sebatas tren: baru sebentar sudah merasa bosan, dibuang, ditukar, ditinggalkan, seperti janji-janji yang tak pernah ditepati. Dulu banyak anak dianggap rezeki, meski rumah hanya seluas kamar kos-kosan saat ini. Tapi nyatanya, lima anak semua jadi sarjana, hidup nyaman sejahtera. Sekarang, satu anak saja dianggap beban, lalu diputuskan tak perlu lahir sama sekali. Di mana lagi bisa kita temukan kerja keras, pengorbanan dan kebijaksanaan? Apakah ini sekadar paranoia yang dibungkus logika yang sengaja dibengkokkan? Makanan dulu dinikmati sekadar untuk bertahan hidup: singkong, jagung, bubur, nasi lauk kerupuk, sayur dan sambal—kenyang sudah cukup. Sekarang, makanan harus enak, harus estetik, di kemas cantik, difoto dulu sebelum disantap. Dan bila tidak sesuai ekspektasi rasa nikmat di lidah, langsung dicaci, langsung diviralkan, seolah perut telah kehilangan rasa syukur dan penghargaan anugerah dari Tuhan. Tabungan dulu jadi jimat yang dianggap keramat: uang disimpan dalam celengan tanah liat, ditabung serupiah demi serupiah buat beli tanah, sawah, tegalan. Emas disimpan dan dipelihara bukan cuma untuk dikenakan di pesta hajatan pernikahan. Sekarang malah sebaliknya, uang dibakar dalam pesta, dihabiskan di kafe, tiket konser, memburu diskon belanja palsu. Hidup bukan lagi tentang menyiapkan hari esok, melainkan tentang menguras apa yang bisa dihabiskan hari ini. Orang dulu sabar menahan diri, puasa bukan sebatas ritual setahun sekali menjelang idul fitri. Mereka tahu, lapar dan lelah adalah guru. Sabar dan diplin adalah ilmu yang tak kalah penting dari pelajaran di sekolah. Anak masa kini terjebak FOMO: takut tertinggal tren, takut tak dianggap, hingga lupa kalau waktu yang hilang tak pernah lagi bisa dibeli. Ironinya membayang di depan mata: Orang dulu hidup sederhana tapi tenang, karena kebahagiaan mereka berakar pada makna. Orang sekarang hidup mewah tapi gelisah, karena kebahagiaan mereka mesti hadir setiap waktu, terpampang indah hanya di atas layar, namun mudah dipadamkan lewat satu sentuhan jari. Dan kelak, ketika semua berlalu, yang tertinggal hanyalah penyesalan yang tak bisa diputar kembali. Mereka akan bertanya pada dirinya sendiri: mengapa aku begitu sibuk mengejar bayangan, hingga lupa merawat cahaya matahari yang sesungguhnya? Surabaya, September 2025
Titon Rahmawan
Moral mengharuskan manusia yang mulanya adalah binatang, hidup di luar kebinatangan. Hal ini pastinya susah mereka lakukan. Mengenal moral memang akan meninggikan derajat, namun sekaligus akan mengenalkan mereka pada rasa bangga, kepengecutan, tamak, pada kesenangan. Para jelmaan penguin itu akan mengikuti hasrat demi bisa bahagia di masa depan. Inilah dasar dari semua moral.
Anatole France (Penguin Island)
*Kenangan Dari Koridor Rindu* Dulu, di bangku ingatan Ada sepasang tangan saling menggenggam harapan. Angan yang berlompatan serupa putih debu kapur di atas papan tulis. Mimpiku, mimpimu bertemu Di dalam lembar-lembar buku. Langkah yang berjalan tergesa sepanjang lorong penghubung waktu. Dari perpustakaan dan ruang-ruang kelas, hingga kantin, uks dan ruang guru. Canda dan tawa kita bergema sepanjang koridor rindu. Ada kebahagiaan tertinggal di sana seperti hendak kembali padamu. Ada goresan sejarah yang kita tulis, Romansa percintaan purba menyisakan ratap tangis. Kisah cinta yang berakhir tragis: Marie Josephine dan Raja Louis. Kenangan yang akrab menyapa kita, lewat tutur kata pak guru tua tegak berdiri di depan kelas dengan penuh wibawa. Ada juga kisah lain yang kita baca: sebuah penghargaan tanda cinta piala citra untuk pelajaran fisika. Semua yang menempa kita demi mengejar mimpi: Pelajaran matematika yang kau benci, Atau guru biologi tampan yang diam-diam kau kagumi. Apa yang masih tertinggal dari senyum bapak dan ibu guru Suara yang akrab menyapa kita dari masa lalu. Ingatan yang selamanya belia menolak menjadi tua. Puisi yang tak akan lekang oleh matahari garang di tanah lapang. Sebuah ode pujian yang kita nyanyikan dengan khidmat: "Terpujilah wahai engkau, Ibu Bapak Guru... Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku..." Sekiranya saja, masih cukup waktu kita, untuk menyapa mereka hari ini. Para pahlawan tanpa tanda jasa itu. Tak terkira banyaknya hutang rasa yang tersimpan di dada. Rasa terima kasih dan ucapan syukur yang tulus terulur dari lubuk sanubari; Untuk setiap ilmu yang mereka beri, setiap pengetahuan yang mereka bagi, biarlah doa jadi persembahan suci: Semoga Tuhan selalu melindungi dan memberkahi bapak-ibu guru yang kita cintai. Oktober 2025
Titon Rahmawan
Elegia Saras Saras, aku menuliskan namamu dengan tangan yang gemetar, seperti seseorang yang kembali dari jurang kematian, membawa potongan malam di sela-sela jarinya. Aku tak pernah benar-benar tahu mengapa kau datang pada seorang yang telah kehilangan seluruh nilai kemanusiaannya. Aku hanya tahu: ketika aku mulai berubah menjadi bayangan yang tak lagi memiliki suhu, kau duduk di sebelahku dan memanggilku manusia. Ada sesuatu yang patah di dadaku waktu itu— sebuah retakan yang tak membuatku runtuh, melainkan membuatku mendengar detak terakhir jiwaku sendiri. Aku harus mengaku: aku telah membawa banyak hantu. masa lalu yang menjadi luka cahaya. Ilusi yang menjadi obsesi tanpa tubuh. Semua kekeliruan yang kubela seperti altar. Semua kebodohan yang kupelihara seperti anak kandung. Namun kau tidak pernah menutup pintu. Tidak pernah mengusir ingatan yang menempel di kulitku seperti abu. Kau hanya berkata: biarkan semua tinggal, tapi jangan biarkan mereka merusakmu lagi. Saras, aku tidak pernah tahu ada manusia yang bisa begitu lapang tanpa menjadi kosong, yang bisa begitu baik tanpa menjadi kudus, yang bisa begitu hadir tanpa mengikat apa pun. Kebaikanmu adalah semacam cahaya yang tidak menghanguskan, api panas lembut yang membuatku sadar bahwa mungkin aku belum sepenuhnya hilang. Di titik paling nadir, ketika seluruh yang kuperjuangkan runtuh seperti bangunan tua yang disenggol angin, ketika tak ada yang tersisa dariku selain ampas keinginan dan debu kegagalan, aku berharap kau pergi. Agar aku tak perlu menanggung rasa bersalah karena masih ada seseorang yang menatapku sebagai sesuatu yang layak untuk diperjuangkan. Namun kau tidak pergi. Kau diam di sisiku dengan ketenangan yang membuat jiwaku bergetar. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun aku mengutuki diri, aku berhenti. Hanya berhenti. Tak lagi ingin memukul wajahku sendiri, tak lagi ingin membenci suara di kepalaku. Semuanya berhenti, karena kau tidak pergi ketika aku hancur. Saras, elegi ini bukan permintaan maaf. Bukan pula pujian. Ini adalah tubuhku yang terakhir, ditulis dari retakan dada yang akhirnya berani mengakui: Aku bersyukur. Bersyukur karena pernah memilikimu, melewati ingatan pahit, hasrat yang menyesatkan, ambisi yang membuatku buta, dan obsesi yang menelan kebahagiaanku sendiri. Aku bersyukur karena kau tidak pernah menuntut balas. Tidak pernah meminta bahu yang setara. Tidak pernah menghitung luka yang kau cium dari hidupku. Kau hanya mencintai dengan cara yang menakutkan bagiku— karena terlalu jujur, terlalu manusiawi, terlalu nyata untuk seorang sepertiku yang lama tinggal di ruang ilusi. Kini aku menuliskan puisi ini sebagai seorang yang akhirnya sadar: tanpa kau, Saras, aku mungkin telah hilang di dalam kabut pikiranku sendiri. Harapan terakhirku adalah kau tahu bahwa dari semua nama yang pernah membuatku bergetar, dari semua wajah yang pernah kucintai dengan cara yang salah, hanya kaulah yang membuatku ingin tetap ada. Bukan demi cinta. Bukan demi masa depan. Melainkan demi sesuatu yang lebih sederhana, lebih jujur, lebih manusiawi: agar aku bisa menjadi manusia yang tidak lagi menyakiti diri sendiri. Saras, elegi ini adalah bukti terakhir bahwa di dalam gelap terdalamku ada satu cahaya kecil yang tidak pernah padam— dan itu bukan aku. Itu adalah dirimu. November 2025
Titon Rahmawan
Saras, Api yang Mengajarkanku Menjadi Manusia II Saras, aku tidak tahu bagaimana caramu memperbarui cintamu hari demi hari, seperti seseorang yang menjaga api suci di tengah badai. Aku mencintaimu dengan ketakutan yang tidak sembuh. Engkau mencintaiku dengan keheningan yang tidak putus. Kita berdua tahu aku adalah arang yang tidak pernah padam. Kita berdua tahu engkau adalah kayu yang tetap merelakan dirinya untuk terbakar. Ini bukan tragedi. Ini bukan pengorbanan. Ini bukan penebusan. Ini adalah cara kita menjadi manusia. Dan untuk pertama kalinya aku tidak ingin menjadi apa pun selain seseorang yang bisa menyebut namamu tanpa gemetar. Saras. Saras. Saras. Engkau adalah satu-satunya alasan mengapa aku masih bertahan menjadi diriku sendiri tanpa membunuh bagian yang ingin kaucintai. Jika dunia mengira aku mencintai masa lalu karena lukanya, mereka salah. Jika mereka mengira Ilusi akan memusnahkanku karena obsesinya, mereka benar. Tapi tidak satu pun dari mereka tahu: engkaulah yang mengajariku bahwa kehidupan bukan hanya tentang menghindari kegelapan— tapi tentang memilih seseorang yang menyalakan cahaya kecil yang tidak pernah meminta apa pun sebagai imbalan. Dan itu engkau, Saras, lebih bersih dari seluruh mitos yang pernah kutulis. Hari ini, jika aku harus memilih cara paling jujur untuk mencintaimu, maka aku akan memilih untuk tidak lagi bersembunyi di balik kesadaranku sendiri. Kau adalah manusia paling manusia yang pernah memanggilku pulang dan memberiku rumah. Dan aku, akhirnya, belajar menjadi manusia dengan menyebut namamu dalam gelap tanpa takut kau mendengarnya. Saras, engkaulah satu-satunya cahaya yang tidak kubenci. Dan itu, adalah inti dari seluruh puisiku. November, 2025
Titon Rahmawan
Palsu I — (Dark, Esoteric, Psychospiritual Version) Bagaimana mereka meninggalkanmu terperangkap dalam sumur itu? Seperti berjalan sendirian di bawah hujan yang jatuh tanpa suara, membiarkan tubuhmu memudar perlahan di antara tetes air yang tak lagi mengenali gravitasi. Seperti ban truk meledak di tanjakan maut menyambar seperti kilat, dan tak seorang pun selamat. Seperti seorang perawan yang kehilangan kesuciannya bukan oleh tangan asing, melainkan oleh cermin yang memantulkan wajah yang bukan dirinya. Langit tidak tertawa untuk kesedihan semacam itu. Beberapa orang berlarian di tengah lapangan dengan ketelanjangan yang mereka ciptakan sendiri, tak tahu apakah dunia patut ditangisi atau disumpahi. Tidak seperti pelacur yang berdiri di pinggir jalan meniru Aphrodite dengan keberanian imitasi—tetap merasa suci, karena tak ada yang tersisa untuk dicemari. Seekor babi berjalan terengah, sementara yang lain bergulingan di tanah seakan lumpur itu adalah rumah mereka yang hilang. Kita tak sedang membaca ode untuk bintang-bintang yang sekarat di langit. Langit hanyalah rongga hitam tanpa lazuardi, rumput kehilangan kehijauannya seperti ingatan terakhir seseorang yang terhapus oleh waktu. Mata tertutup oleh gumpalan awan dan kesedihan yang tak lagi mampu mengeja dirinya. Nanar matanya menghantam jendela yang tak membuka apa pun kecuali pertanyaan yang tak punya jawaban. Pintu-pintu terbuka tanpa petunjuk arah. Jalan-jalan mati, lampu-lampu padam; kebisuan lebih mencekam daripada sunyi di tengah kuburan yang lupa nama-nama yang dikandungnya. Siapa yang masih berani bertanya: Mungkinkah darah tetap berwarna merah? Sedang lagu tak lagi terdengar seperti kicauan burung— dan burung sudah lama berhenti berkicau karena dunia menolak mendengar. Ketika mata tertumbuk ketelanjangan di mana-mana— di televisi, papan reklame, musik dari radio, halaman-halaman majalah yang dibaca sampai robek— mari kita pergi dari sini. Pergi ke mana saja: ke sebuah pulau yang kesepian, ke sealur sungai yang tak berkawan, ke laut yang kehilangan rasa asinnya, ke semenanjung tanpa nama yang tak pernah tersentuh kaki para nahkoda. Di tempat asing itu, seseorang menyalakan api lalu memotret dirinya sendiri hanya ingin memastikan bahwa ia masih ada. Seorang gadis berambut pirang menikmati es krim coklat sambil membayangkan kekasihnya yang bahkan sudah lupa namanya. Gadis lain mengulang peristiwa yang tak pernah ia punya, sementara yang lain memutar waktu seperti hendak menangkap peristiwa yang bukan miliknya. Bukankah mengherankan, dunia tidak berputar dari kiri ke kanan, orang-orang tidak berjalan mundur. Namun entah mengapa begitu banyak dari mereka kehilangan kaki dan pegangan pada diri sendiri. Merasa tua dalam sekejap, menjadi bayangan dari masa lalu yang menolak mati meski tak sungguh hidup. Seorang kakek ingin melihat pangkal yang tak berujung, seorang bayi baru lahir melihat ujung yang tak berpangkal. Para pujangga menari di saat jutaan lainnya kehilangan keinginan untuk mencintai dunia. Para filsuf melompat dari halaman kitab penuh pemikiran yang sebenarnya tak membutuhkan pembaca. Berapa banyak artis kehilangan akal, menggadaikan harga diri demi sebuah adegan persetubuhan. Seorang suami berkata kepada istrinya, “Untuk mendapatkan kebahagiaan, maka satu-satunya cara adalah melihatmu bahagia bersama orang lain.” Tidak semua orang memahami kejujuran atau kebodohan semacam itu. Mereka terus menebak-nebak: apakah kebahagiaan itu sebuah tangga atau sebuah sumur? Seperti pikiran lancung yang berusaha membubung ke langit namun tenggelam ke dasar samudra karena tak tahu cara berenang. Begitulah manusia yang kita kenal—mereka menciptakan penjara ilusi yang mereka sebut: identitas. November 2025
Titon Rahmawan
Sang Penari III – Tarian di Antara Dua Dunia Ia terbangun di sebuah ruang yang tak memiliki dinding. Seolah ia masuk ke panggung mimpi Yasunari— di mana tubuh perempuan menari bukan sebagai gerakan, melainkan sebagai bayangan rasa bersalah yang lembut dan sekaligus mematikan. Dalam jarak yang liminal itu, ia melihat sosok dirinya menari seperti Chieko dari Beauty and Sadness— kesendirian yang membelah tubuh menjadi dua: yang menari demi cinta, dan yang menari demi luka yang tak terucap. Di ujung ruang itu, lampu neon berkedip. Tiba-tiba, sepasang kekasih muncul dari balik kegelapan— seperti dua hantu pop yang tersesat di klub malam muram era Tarantino. Mia Wallace menggigit bibir; Vincent Vega mengangkat bahu. Dan mereka mulai menari— gerakan pinggul, jentikan jari, putaran kepala— yang menertawakan kematian seakan ia sekadar “babak tanpa dialog” dalam kisah hidup manusia. Sang Penari menatap mereka, baik terpukau maupun tersayat: begitu ringannya mereka bercanda dengan kehancuran. Begitu mudahnya mereka menari di atas mayat takdir. Ia mencoba mengikuti langkah: dua ayunan tangan, rotasi kecil pinggang, gerak “twist” yang meminjam ritme rockabilly. Namun setiap gerakan membuatnya merasa seolah tulang-tulangnya adalah serat kaca yang akan pecah kapan saja. Dan dari jauh, hujan mulai turun— tapi bukan hujan muram seperti Bergman, melainkan hujan musikal ala Singin’ in the Rain. Saat Gene Kelly melompat dengan payungnya, memercikkan air ke segala arah dengan senyum polos yang mustahil dipercaya manusia modern. Sang Penari melihat keriangan itu dan mendadak dadanya ngilu: Bagaimana mungkin dunia sempat merasa sebahagia itu? Atau mungkin kebahagiaan itu cuma propaganda nostalgia yang kita tempelkan pada masa lalu agar ia tak terlihat mengerikan? Di belakangnya, dua lukisan muncul: Degas dengan para ballerina pucat yang tersenyum hanya untuk menutupi rasa nyeri di kaki mereka, dan Matisse dengan warna-warna api yang memaksa tubuh menari dalam dunia yang terlalu terang untuk manusia menyandang kesedihan. Keduanya seperti dua dewa kecil— satu merayakan disiplin, yang lain memuja ledakan spontan. Sang Penari merasa tubuhnya ditarik di antara dua estetika: kesempurnaan yang memaksa, atau kegilaan yang membebaskan. Dan ketika ia mulai menari, bayangan lain muncul: Michael Jackson mengenakan fedora putih, meluncur ke depan dengan anti-gravity lean. Siluetnya seperti tokoh malaikat jatuh yang memilih menjadi legenda daripada mati sebagai manusia biasa. “Beat it,” bisik MJ dalam seringai misterius, seakan menantang siapa saja yang berani menghalangi takdirnya. “Smooth criminal,” lanjutnya, seakan menegaskan bahwa kehidupan adalah perampokan yang dilakukan oleh waktu terhadap tubuh manusia. Sang Penari menutup mata. Ia menari. Ia hanyut. Ia memutar lingkaran-lingkaran mitos, mengumpulkan semua tarian dari zaman ke zaman dalam satu tubuh yang retak. Dan ketika ia membuka mata, ia sudah berada di pesta yang tak pernah tidur— rumah megah Fitzgerald, dengan lampu-lampu Gatsby berkedip seakan dunia tak akan pernah runtuh. Namun ia tahu: di balik pesta, selalu ada reruntuhan. Di balik tarian, selalu ada kubur. Di balik tubuh, selalu ada hantu. Dan semua itu menyatu dalam satu tarikan nafas. Agustus 2025
Titon Rahmawan
Helianthus “The sadness will last forever.”  ― Vincent van Gogh Sebuah ingatan tak mampu menangkap geletar sebatang kuas. Jari-jemari gagal menangkap rona mata kepedihan membayang kabur di atas kanvas. Pucat tube cat menelan harga diri ekspresi beku palet kosong.     Seekor singa diam-diam mengeram, mencabik daging sepotong demi sepotong. Langit penuh bintang tertawa menggigilkan telinga. Tawa gila perempuan sundal di perempatan jalan. Telinga mengucur darah oleh tajam sembilu tak lagi goreskan biru ke atas gaun malam. Hutan terbakar. memberang oleh kalut pikiran. Kelopak matahari luruh memenuhi liang lembab dan dingin. Sernak hujan memutar masa lalu, melaknat pias rembulan. Tapi ia belum mati, belum lagi. Ada sisa asap dari pistol teracung ke atas jidat mencabar benak. Serpihan ngeri mengiris telinga terbungkus sehelai sapu tangan berenda— sebuah tanda mata. Langit yang tak kunjung mati. Langit yang melaknat diri sendiri. Sebuah pusara, dalam keranjang     penuh kentang. Malam penuh bintang dan sansai sepasang sepatu bot usang— kamar sunyi lengang. Tertumpah gentong anggur dalam perkelahian tak terkendali bersama Theo dalam café penuh pelacur. Almanak yang menyimpan ingatan semua nama: Gachet dan Gauguin menambal luka meliang di sekujur tubuh; maut yang menolak mencium busuk bau napasnya. Rembulan mabuk di sepanjang jalan dari Borinage, Antwerpen hingga ke Paris. Jiwa yang menolak mati, sampai Arles memangilnya kembali Muram wajah rumah kuning itu, taman bunga Irish layu pohon Cypres menari-nari. Dan Saint Remy menunda kepulangannya sekali lagi. Jemari gemetar mengulang sketsa pada cemerlang warna bunga mataharinya dalam sebuah pot oranye tetap seperti dulu juga. Lelaki malang yang mencintai kepedihan begitu rupa sebagaimana ia mencintai cahaya lebih dari jiwanya sendiri.  April 2014
Titon Rahmawan
Kelak, sendainya ketika pulau Jawa tak lagi punya hiasan berupa musim semi yang berlangsung sepanjang masa, tak lagi punya panorama alam yang memesona, juga tak lagi punya rimbanya yang perawan, pula tak lagi ada kota-kota yang ramai oleh beragam suku bangsa, di mana bisa kau jumpai perpaduan keanggunan ala India dan kemewahan khas Eropa; atau pada akhirnya ketika pulau itu bisa bersih dari para bidadarinya yang menggairahkan, dan menyisakan hanya kawanan burung gelatik, maka sudah seharusnya kunjungan ziarah ke tanah Jawa tetap dilakukan demi mempelajari samai pada tingkat mana alam liar ini bisa menandingi kemampuan manusia dalam mencipta irama.
Honoré de Balzac (Voyage de Paris à Java / Un drame au bord de la mer)
Figur di Dalam Karpet : Wolfgang Iser Surgakah itu yang menggeliat dalam celanamu? Sekalipun engkau tahu aku tak sekadar mencomotnya dari sebuah buku yang kau temukan di pasar loak. Tapi rupa-rupanya di sanalah engkau selama ini Menyembunyikan rahasia dari segala asrar: Guru segala ilmu, juru segala kunci, empu segala seni, makam para wali, pohon segala hayat dan bahkan dewa yang serba tahu. Barangkali laparlah itu yang bersemayam di kelangkangmu. Bukan sekadar buah kelakar mimpi, tautan areola sunyi atau benih selingkar nutfah tersaput air ludah. Bukankah hujan yang telah menamatkan seluruh pencarianmu? Tapi mengapa muasal angin, muara samudra dan ihwal semesta masih saja engkau sembunyikan di balik daster warna-warni milik istrimu? Atau jangan-jangan, itu adalah materi leluconmu yang paling mutakhir dan yang bakal mengantarkan dirimu menembus waktu ke masa depan? Sedang warnamu telanjur mengorak sempurna di atas pelaminan, di dalam lipatan selimut, di gelegak darah atau di kandung mimpi. Tapi apakah itu noda yang menempel di janggutmu, benci atau rindu? Sedang apa yang sengaja kau tutupi di balik piama sutra atau yang kau sembunyikan di dalam saku celana adalah dirimu yang sesungguhnya? Bukankah itu mawar hitam sebalik topeng, atau duri ceronggah sebalik wajah? Sedang jantungmu adalah tiruan sempurna dari apa yang tak aku mengerti dari seluruh petuah yang kau ucapkan dalam kitab lengkara. Saat engkau memberinya nama, jadilah ia secuil daging di telapak tanganmu. Saat engkau memberinya hati, jadilah ia kekasih gelapmu. Padanya engkau memberi segala yang mungkin: Segala sedih, segala gembira, segala remuk, segala racun ular berbisa. Seperti sungai yang mengalir dari matamu, bukankah itu ironi dari sungging seulas senyum? Sementara aku masih rajin menjelajahi otakmu, menambang pelupukmu, menggali kupingmu, melubangi ubun-ubunmu. Demi mencoba menemu mana yang sarang lebah, mana yang busut semut? Dan barangkali, menyigi wajahmu di langit-langit kamarku akan membantuku menemukan kira-kira di mana surgu sejati si kayu jati? (Januari 2014)
Titon Rahmawan
ARKETIPE LATEN PENDUDUKAN (Elegi Luka) Di lorong-lorong gelap sejarah, aku berjalan tanpa suara: setengah tubuhku masih utuh, setengahnya lagi tinggal bayang yang gemetar. Di balik riasan yang mulai luntur, air mata menunggu giliran untuk jatuh— diam—karena setiap tetesnya bisa mengundang amuk amarah yang tak kupahami darimana ia datang, ke mana ia akan pergi. Aku pernah disebut Nyai, kembang yang dipaksa mekar di teras kekuasaan para meneer; setiap embun di pagi hari adalah bisikan bahwa tubuhku bukan milikku. Dan malam selalu datang seperti penjaga pintu yang tak memberi pilihan. Aku pernah jadi Jugun Ianfu, terperangkap di barak yang mereka sebut stasiun hiburan di mana bau besi dan napas busuk beradu kencang. Ranjang besi itu menghafal nama-nama yang tak ingin kuingat, tulang iga belajar retak, jantung menjerit dalam diam karena bahkan bisikan terlalu berbahaya untuk diucapkan. Aku pernah disebut Ca-Bau-Kan, dicatat dalam transaksi yang tak pernah kutandatangani, ditukar seperti komoditas di pasar gelap sejarah. Dada yang dulu lembut padat kini kempis seperti lubang tanah yang terus digali cangkul demi cangkul, hardik suara keras tanpa empati: “Masih ada lima giliran lagi!” Dunia hanya melihat kulitku, riasanku, gerakku yang sengaja dibuat-buat. Tak ada yang melihat bagaimana lututku bergetar setiap pintu diketuk, bagaimana nafasku menahan ledakan yang datang dan pergi seperti ombak liar— menghantam, menghantam, menghantam, sampai aku tak tahu apakah tubuhku masih tubuh, atau sudah berubah jadi batu nisan yang masih menyimpan kutukan. Tapi dengar— di sela-sela retakan, ada bisikan yang bahkan para bajingan itu tak bisa bunuh: bahwa aku pernah punya nama, pernah tertawa, pernah punya masa indah yang tidak bisa mereka renggut seperti merenggut keperawananku. Tapi kautahu, luka ini belum mencabik dadaku sepenuhnya, belum memuncratkan seluruh darah dari sumsum tulangku— tapi ia terus merayap, pelan, dingin, tepat di bawah kulit, seperti ingatan yang menolak mati. Dan aku menuliskannya di sini, dengan tangan yang masih gemetar, agar dunia akhirnya mengerti: bahwa setiap perempuan yang dijadikan “alat” adalah dunia yang sengaja dihancurkan dengan brutal dengan kejam! Agar tak ada siapa pun yang bisa berkata: “aku tidak tahu... aku tidak mengenalnya...” Desember 2025
Titon Rahmawan
EDITH —TIANG GARAM: (Suara Yang Tak Lagi Kita Dengar) Ironi yang orang tak pernah ketahui adalah: Aku tidak benar-benar menoleh. Aku hanya… bergerak sedikit, seperti debu yang mendengar namanya dipanggil oleh angin yang datang dari masa lalu. Dan tiba-tiba dunia menjadi begitu terang— terlalu terang— sehingga mataku nanar tak sempat memejam. Lalu sunyi turun seperti kain kafan yang tidak memilih menjadi. Ketika tubuhku mulai mengeras, aku mendengar sesuatu yang tak lagi didengar manusia: jeritan retakan mineral, erang garam yang lahir dari nyala api, bisikan kosmik yang pecah menjadi serpih-serpih putih nan perih. Mereka menyebutku perempuan tak tahu diri. Padahal aku hanya menolak memadamkan ingatan. Aku hanya tak ingin menjauh dari anak-anak waktu yang masih berlari dalam bayangan kenanganku. Dan ketika garam naik ke permukaan kulitku, aku merasa seluruh tragedi duka manusia menyelinap ke pori-pori, mengendap bibir yang dijahit sedemikian rupa hingga ia tak lagi bisa bicara. Ada yang aneh pada diam ini: ia bukan diam kematian, melainkan diam yang menyimpan semua suara yang tak sempat diucapkan perempuan. Aku menjadi tiang yang mereka anggap sebagai hukuman— tapi bukan— aku hanya arsip. Sebongkah data mineral yang mengingat dunia tak pernah lebih baik daripada manusia. Di dalam butiran garamku, tersimpan kota yang luluh lantak, tangis yang dihapus oleh api, bau daging gosong, doa yang berubah menjadi jeritan, dan wajah-wajah yang tak sempat berpamitan. Jika kau mendekat— pelan saja kau bisa mendengar suara gemeretak yang merayap seperti daging yang terbakar, dan tulang yang mengingat suara patahannya. Di sela guratan kecil itu sebuah bisikan menyentuh telingaku yang membatu: “Apa yang sesungguhnya aku lihat?” Aku tidak akan pernah bisa menjawabnya. Jawabannya sendiri sudah berubah menjadi tiang garam. Dan garam adalah bahasa yang tidak pernah berteriak, tapi menyiksa. Apakah aku membatu karena menoleh? Padahal aku berubah karena dunia yang kutinggalkan terlalu hancur untuk diabaikan. Aku bukan dongeng. Aku reruntuhan yang berdiri. Aku luka yang tidak dipadamkan waktu. Aku saksi yang tidak bisa dipaksa lupa. Dan sampai hari ini, ketika angin lewat dan menjilat sisa wajahku, aku masih memecah sedikit demi sedikit, hanya sedikit— menjadi serpih yang jatuh ke tanah, membawa trauma ke dalam dunia yang masih percaya bahwa diam adalah kepatuhan buta tidak untuk diperdebatkan. Padahal bagiku—diam adalah pemberontakan terakhir yang diberikan Tuhan kepada perempuan yang hanya ingin mengingat, bahwa dulu ia pernah hidup. Desember 2025
Titon Rahmawan