“
Protokol Keberadaan
// (Dekonstruksi: Sartre · Camus · Derrida)
Di ruang tanpa tripod penyangga—
aku berdiri sendirian, kata-kata bergetar.
Kebebasan? kata itu berdaki pada bibirku seperti tinta lama yang telah mengering.
Kudeklarasikan: aku memilih—
lalu sistem membaca ulang pilihanku,
menemukan trace yang tak pernah kuketik: jejak-jejak luka,
différance yang tersisa.
Camus menaruh batu di pangkuanku; aku menolak mengangkatnya.
Ia bilang: lakukan pemberontakan,
hidup menuntut upaya menanggung absurditas.
Aku bertanya: siapa yang menulis perintah itu dalam log jam;
apakah log memberi status: sah atau hanya pesan error yang terulang?
Sartre berbisik: kau adalah keputusan; kau bukan takdir.
Tapi siapa yang menyetujui keputusan itu ketika kata 'aku' sendiri
adalah naskah yang dapat dipanggil ulang, dikopi, di-paste ke tubuh lain?
Kebebasan itu jadi modul: terinstal, terhapus, di-restore oleh cinta dan kerinduan.
Derrida tersenyum dalam bayangannya—bukan menghina, melainkan menyodorkan sebilah pisau:
“Bongkar premisnya. Baca ulang tanda-tanda. Perhatikan sisipan yang kau anggap pasti.”
Sekali kuteruskan kata “hak”, ia menjadi pantulan: hak untuk memilih 》 hak yang dimaknai 》 hak yang dibaca ulang.
Selalu ada kemungkinan lain di balik tiap premis—sebuah residu yang tak bisa dimusnahkan.
Jadi aku menulis dengan alfabet yang tak terikat:
kata seperti partikel, seperti byte; mereka bergerak, meninggalkan jejak,
membentuk makna bukan sebagai titik, tapi sebagai radiasi—gelombang yang menunda kehadiran.
Aku menunggu diferensiasi itu: makna yang datang telat, menunda, menggoda, melepaskan diri.
Ketika aku menolak keabadian—aku merdeka; ketika aku menuntut makna—aku terjerat.
Absurd bukanlah lubang kecil; ia adalah kondisi komputasi yang terus-menerus crash.
Kita reboot, kita mencari error log, kita menambal dengan mitos, doa, slogan, retorika—
lalu satu baris kode lagi menghapus semuanya, meninggalkan prompt: > Siapa kamu?
Maka puisi bukanlah jawaban—ia adalah protokol:
baca—hapus—tunda—ulang.
Dalam ritme itu aku menemukan sebuah rahmat sirkuler:
kebebasan yang diakui sebagai kebebasan untuk tetap ragu
atau selamanya ambigu.
Aku menapaki ruang antara kata
dan bisikan.
Di sana, warna hitam bukan nihil;
ia adalah pagar yang memaksa pandang.
Di sana, doa bukanlah mukjizat; ia menjadi setitik delay yang menyelamatkan kita dari aksi.
Di sana, aku mengakui: aku mungkin hanya efek samping dari keputusan yang belum kumengerti.
Tapi ada pula sesuatu yang tak bisa di-deconstruct: getar tak terbaca di dada,
ketika aku memilih untuk menanggung, bukan hanya berargumen tentang siapa yang harus menanggung.
Ada keberanian yang tidak perlu diideologikan—hanya dipraktikkan:
memilih lagi, meski tahu teks bisa berubah rupa di saat kita membacanya.
Di ujungnya, kita tidak akan menemukan definisi yang bertahan seutuhnya;
kita menemukan sebuah kebiasaan: berani membuka kata, menunggu trace, mendengar gema.
Itu bukan absurd semata; itu adalah ritual perulangan yang membawa kita pada perjumpaan—
bukan dengan kebenaran yang tunggal, melainkan dengan kebenaran yang berkorelasi:
kebenaran yang bersedia menjadi ruang tunggu tempat bertemu, bukan batu yang membebani.
Jadi datanglah, pilih:
tetap berpegang pada batu yang membuatmu runtuh, atau berdiri di ambang uraian,
tempat kata-kata menjadi medan peperangan, dan kebebasan adalah aktivitas terus-menerus—
sebuah kerja pikiran, bukan klaim monumental.
Di sana, antara deklarasi dan keraguan, kita mendirikan puisi ini:
sebuah protokol kecil untuk hidup yang tidak puas dengan kepastian,
sebuah doa yang bisa di-debug, namun tak pernah sepenuhnya dapat dimusnahkan.
November 2025
”
”