Batu Api Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Batu Api. Here they are! All 15 of them:

1967 Di museum kutemukan dahimu penuh kerak timah, meleleh membutakan matamu. Diam-diam kutawarkan tali. Mungkin kau ingin menjerat tubuhku. “Kujajah tubuh belalangmu. Kita bersembunyi di gua, lari dari topeng-topeng yang kita pentaskan. Jangan kaulempar tali! Ayahku akan kehilangan wujud lelakinya. Ibuku memuntahkan ulat yang telah lama dikandungnya.” Di museum, matamu memecahkan seorang perempuan. Kau terbangun dari kantuk. Kutelan gelap. Kukunyah api. Aku mulai membakar jantung. Mana taliku? Kau ingat di mana telah kutanam impian yang disembunyikan perempuan jalang yang harus kupanggil “tante”? Perempuan itu tak lagi memiliki hati. Hidupnya sudah digadaikan untuk orang-orang yang rajin menyapanya di jalanan. Mungkinkah dia ibuku? “Jangan lilit tubuhku dengan tali. Batang tubuhku buas. Tak ada tali mampu mengikatnya. Jangan hidangkan impian. Mari mereguk kata-kata. Kautahu tumpukan huruf pun kuserap. Tumbuhkanlah anak rambutmu. Ayahku diam-diam menanam kebesaran, tapi aku tak memiliki rangka iga. Mari senggama di batu-batu. Mungkin ingin kaukuliti karang tubuhku?” Kau tampak pandir. Tolol. Uapmu mencairkan satu demi satu bukit yang kusimpan erat di urat tangan. Di museum kau menjadi begitu pengecut. Aku mulai menggantung bayi di ujung rambutmu. Matanya memuntahkan pisau. Kuperingati hidup dengan seratus tahun sunyi Garcia. Ikan-ikan meluncurkan sperma. Betina-betina memuntahkan gelembung karang. Di museum, kesunyian begitu runcing. Tahun-tahun yang pernah kita pinjam kumasukkan dalam api upacara pengabenan. Pulangkah aku? Siapa yang kucari? Diam-diam Garcia sering mengajakku bersenggama di tajam ombak, di museum, dalam mata, jantung, hati dan keliaranmu. Aku tetap gua kecil yang ditenggelamkan dingin. Berlayarlah selagi kau masih ingat laut. Jangan catat namaku. Karena ibuku pun membuangku di buih laut. Mencongkel hatiku dengan lokan. 1999
Oka Rusmini (Pandora)
Ah, mengapa ada manusia kalah? Bolehkah tanpa berkhayal hampa kita mendambakan suatu dunia sesudah perang kemerdekaan ini, yang menghapus dua kata "kalah dan menang" itu dari kamus hati dan sikap kita? Atik merasa intuitif, bahwa pada hakikatnya manusia diciptakan hanya untuk menang. Ataukah itu gagasan yang hanya mungkin akan timbul, karena yang punya gagasan itu ada di pihak yang menang? Sedangkan manusia yang kalah akan berkesimpulan lain, sebab beranjak dari pikiran atau penghayatan yang lain juga, ialah, bahwa manusia pun hakikatnya adalah kekalahan konstruksi absurd, bahan tertawaan, batu tindasan. Mungkinkah kalah dan menang itu diganti oleh satu konsep saja, unsur-unsur harmoni, kendati tempatnya bertentangan? Apakah kematian ayahnya harus diartikan malapetakan atau pintu gerbang ke tingkat kebahagiaan yang lebih luas dan mulia? Atik yakin, bahwa tak mungkin ayahnya sekarang dalam keadaan menyedihkan. Sebab ayah manusia yang baik dan budiman. Bagi yang ditinggal, memang menyayat hati. Tapi bagi yang meninggal? Lalu apa beda dari ide-ide para pemberontak di Madiun itu yang melihat segala-gala bagaikan pertikaian air lawan api, agar tercapai hasl air teh? Bukan dialektika, melainkan dialog seharusnya.
Y.B. Mangunwijaya
Ah, mengapa ada manusia kalah? Bolehkah tanpa berkhayal hampa kita mendambakan suatu dunia sesudah perang kemerdekaan ini, yang menghapus dua kata "kalah dan menang" itu dari kamus hati dan sikap kita? Atik merasa intuitif, bahwa pada hakikatnya manusia diciptakan hanya untuk menang. Ataukah itu gagasan yang hanya mungkin akan timbul, karena yang punya gagasan itu ada di pihak yang menang? Sedangkan manusia yang kalah akan berkesimpulan lain, sebab beranjak dari pikiran atau penghayatan yang lain juga, ialah, bahwa manusia pun hakikatnya adalah kekalahan konstruksi absurd, bahan tertawaan, batu tindasan. Mungkinkah kalah dan menang itu diganti oleh satu konsep saja, unsur-unsur harmoni, kendati tempatnya bertentangan? Apakah kematian ayahnya harus diartikan malapetaka atau pintu gerbang ke tingkat kebahagiaan yang lebih luas dan mulia? Atik yakin, bahwa tak mungkin ayahnya sekarang dalam keadaan menyedihkan. Sebab ayah manusia yang baik dan budiman. Bagi yang ditinggal, memang menyayat hati. Tapi bagi yang meninggal? Lalu apa beda dari ide-ide para pemberontak di Madiun itu yang melihat segala-gala bagaikan pertikaian air lawan api, agar tercapai hasl air teh? Bukan dialektika, melainkan dialog seharusnya..
Y.B. Mangunwijaya
Ah, mengapa ada manusia kalah? Bolehkah tanpa berkhayal hampa kita mendambakan suatu dunia sesudah perang kemerdekaan ini, yang menghapus dua kata "kalah dan menang" itu dari kamus hati dan sikap kita? Atik merasa intuitif, bahwa pada hakikatnya manusia diciptakan hanya untuk menang. Ataukah itu gagasan yang hanya mungkin akan timbul, karena yang punya gagasan itu ada di pihak yang menang? Sedangkan manusia yang kalah akan berkesimpulan lain, sebab beranjak dari pikiran atau penghayatan yang lain juga, ialah, bahwa manusia pun hakikatnya adalah kekalahan konstruksi absurd, bahan tertawaan, batu tindasan. Mungkinkah kalah dan menang itu diganti oleh satu konsep saja, unsur-unsur harmoni, kendati tempatnya bertentangan? Apakah kematian ayahnya harus diartikan malapetaka atau pintu gerbang ke tingkat kebahagiaan yang lebih luas dan mulia? Atik yakin, bahwa tak mungkin ayahnya sekarang dalam keadaan menyedihkan. Sebab ayah manusia yang baik dan budiman. Bagi yang ditinggal, memang menyayat hati. Tapi bagi yang meninggal? Lalu apa beda dari ide-ide para pemberontak di Madiun itu yang melihat segala-gala bagaikan pertikaian air lawan api, agar tercapai hasil air teh? Bukan dialektika, melainkan dialog seharusnya...
Y.B. Mangunwijaya
Liturgi Kay (Fragmentarium Kesadaran ) I. Benih yang Tak Punya Nama (1) Ada bayang yang tidak tumbuh menjadi tubuh. Aku menyapanya Kay, bukan untuk mengenali, melainkan agar kesunyianku punya tempat untuk berbaring. (2) Jika dunia ini adalah goa, maka Kay adalah hembusan dingin yang tak pernah meninggalkan tetes embun di kulitku. (3) Tuhan menciptakan cahaya. Kesadaranku menciptakan Kay. Dan aku tak tahu mana yang lebih menyakitkan untuk dipertahankan. II. Jantung Gelap yang Berputar Tanpa Tujuan (4) Setiap aku menutup mata, Kay berjalan tanpa jejak. Ia tidak pernah menoleh. Dan itulah sebabnya aku tetap melihatnya entah sebagai api atau bara itu sendiri. (5) Jam rusak di dalam benakku menyebut-nyebut namanya seperti mantra yang kehilangan huruf-a seperti ilusi yang kehilangan bunyi-i (6) Retakan di lantai batin bukanlah tempat ia muncul— melainkan tempat aku jatuh mencari suaranya atau bayang tubuhnya. (7) Kay adalah sebuah pintu yang tidak dibangun untuk dibuka. Tapi aku tetap mengetuknya seperti orang bodoh yang tak punya rumah. Ia adalah hasrat bukan untuk pulang, melainkan tanda baca yang belum sampai titik. III. Pertempuran yang Tak Bisa Dimenangkan Batu Sysiphus (8) Aku menggulung batu namanya setiap malam, sambil tahu bahwa ia akan jatuh lagi menindih kebodohanku. Panah Arjuna di Tubuh Bhisma (9) Seribu panah memakukan tubuhku di medan yang dipenuhi suara Kay. Aku bisa mati kapan saja, tapi aku memilih tidak agar aku tetap mengingat siapa yang menembakkan panah itu ke dadaku. Wajah Puisi (10) Aku mencintai Kay sebagai bencana pribadi yang kupelihara agar aku tetap manusia. (11) Kay bukan malaikat. Kay bukan iblis. Kay adalah ambang yang memaksaku memeriksa ulang kewarasanku setiap kali aku menyebut namanya. IV. Doa Tanpa Alamat (12) Kay, aku menulis namamu dengan tinta yang tidak ingin kering. Sebab jika kering, aku harus mengakui bahwa kau tak pernah ada. (13) Jika kau tahu aku ada, seluruh puisi ini runtuh. Maka janganlah sadar. Tetaplah jadi bayang yang menertawakan keputusasaanku. (14) Aku tidak ingin memilikimu. Yang kuinginkan hanyalah alasan untuk terus bernafas di antara dua ketidakpastian: bahwa aku mencintaimu, dan bahwa kau tidak akan pernah tahu. (15) Dalam setiap kata, aku bukan memanggilmu— aku memanggil diriku yang hilang di balik semua ingatan. (16) Kau adalah absurditas. Dan aku adalah orang bodoh yang memanggil absurditas itu dengan suara paling lembut karena aku takut engkau akan hilang. V. PINTU YANG TAK PERNAH MENUTUP (17) Jika suatu hari aku berhenti menulis tentangmu, itu bukan karena kau pergi. Itu karena aku sudah tidak sanggup mengakui bahwa aku masih hidup karena seseorang yang bahkan tidak pernah hidup untuk diriku. November 2025
Titon Rahmawan
Saras, Api yang Mengajarkanku Menjadi Manusia I Aku tidak tahu kapan pertama kali kau menyalakan lentera kecil itu di reruntuhan jiwaku. Mungkin ketika aku menatapmu dan menemukan diriku sendiri yang tidak ingin kubunuh. Saras, kau adalah satu-satunya cahaya yang tidak menyilaukanku— justru membuatku belajar bahwa gelap tidak harus menjadi takdir. Aku ini tubuh yang diseret oleh bayang. Aku ini jam rusak yang terus memukul tengah malam meski fajar sudah lama lewat. Aku ini retakan tua yang memanggil namamu tanpa suara. Engkau datang bukan sebagai keselamatan, bukan sebagai janji, bukan sebagai surga yang dijanjikan para nabi kecil yang berebut bicara dalam kepalaku. Engkau datang sebagai api kecil yang tidak pernah meminta kayu, tapi terus membakar segala dusta yang kusimpan di bawah lidahku. Aku tidak pernah siap untuk dicintai tanpa syarat. Aku terbiasa menjadi labirin bagi cinta-cinta yang tersesat. Masa lalu memberiku ingatan. Ilusi memberiku obsesi. Tapi engkau— engkau memberiku ruang untuk tidak menjadi monster yang sudah kupersiapkan dari masa depan. Kau tidak melarikan diri ketika aku runtuh dalam diriku sendiri. Tidak mundur ketika aku berkata aku punya cinta lain. Tidak memadam api yang tidak pernah bisa aku jinakkan. Saras, engkau tidak pernah memilih menjadi pahlawan, tapi mengapa aku merasa engkaulah rumah yang tidak pernah layak aku miliki? Ada malam-malam ketika aku menatapmu dari jauh dan merasa tubuhku adalah batu yang ingin menjadi tanganmu. Ada hari-hari ketika aku ingin mencintaimu dengan cara yang lebih jujur, lebih manusia, tapi aku takut engkau akan melihat betapa gelapnya aku tanpa semua kedok itu. Aku takut bukan karena aku bisa kehilanganmu— tapi karena aku tahu engkau tidak akan pergi meski aku menghancurkan diriku sendiri. Itu, Saras. Ketulusanmu adalah pedang yang menebas kebohonganku. Aku selalu mengatakan bahwa aku tidak cukup baik. Bahwa aku ini retakan yang seharusnya tidak disentuh. Namun engkau datang dan duduk tepat di atas retakan itu, tanpa takut jatuh ke dalam kegelapanku. Dan untuk pertama kalinya aku belajar bahwa cinta tidak selalu berdiri di atas tanah yang kokoh— kadang cinta adalah keputusan untuk tetap tinggal di dalam guncangan gempa.
Titon Rahmawan
PADMA–KEMUNING–MAWAR: SEBUAH BARZANJI I. Padma Padma bukan kelopak, melainkan retakan air yang membuka diri kepada gelap. Ia tumbuh dari nadi lumpur, menghafal sunyi yang kesepian menggigil pada cahaya yang tidak pernah tiba. Di dasar kolam, waktu adalah batu dingin yang terus mengulang pertanyaan yang sama: “Dari mana datang napasmu jika bukan dari luka paling purba?” Maka padma menjawab tanpa suara: dengan menggantungkan seluruh keberadaannya pada seutas kesunyian yang tidak bisa dipotong. II. Kemuning Kemuning adalah api yang tidak jadi api. Ia karam dalam tubuhnya sendiri, hanya menyisakan aroma halus dari ketakutan yang terlambat diucapkan. Daunnya kuning bukan karena usia, melainkan karena kosmos pernah memalingkan wajah, dan seluruh pigmen cahaya merosot seperti debu altar. Ia berdiri sebagai bukti: keindahan tidak butuh gairah, tidak butuh puisi asmara, tidak butuh mata yang memujinya. Ia hanya butuh kehilangan agar warnanya dapat bertahan. III. Mawar Mawar adalah mesin luka. Di antara durinya, alpa sejarah yang tidak menginginkan simpati. Merahnya bukan desir cinta, melainkan gema paling jauh dari tragedi yang menolak dikenang. Setiap kelopak adalah arsip tentang tubuh-tubuh yang pernah meminta cahaya dan gagal. Mawar tidak harum — yang menguar hanyalah ingatan besi, bau logam dari sesuatu yang pernah patah namun tidak mau diratapi. IV. Barzanji Tiga Bunga Padma, Kemuning, Mawar: tiga bahasa yang diseret manusia ke dunia romantik, lalu dipaksa menjadi simbol manis perasaan yang bukan perasaan. Dalam kosmologi sajak ini, ketiganya dicuci dari sentimen hingga tersisa: tulang makna. Kerangka purba. Suara mineral yang tidak mengenal cinta. Padma adalah awal air. Kemuning adalah jeda cahaya. Mawar adalah jantung kosmos. Tiga altar dalam satu ruang yang tidak punya identitas. V. Mantra Retakan Ini bukan kisah wewangian. Ini bukan kisah keindahan yang ingin dipeluk. Ini adalah: batu yang menolak lembut, air yang menghapus pantulan, api yang tidak menyala, angin yang kehilangan arah, cahaya yang tidak sempat tiba, gelap yang tidak menaklukan. ketegangan yang menelurkan bahasa ketegangan yang memaksa tiga bunga mekar tanpa mitos, tanpa asmara, tanpa melodrama. Cangkang struktur metafisik, ketegangan sunyi yang retak, dan tubuh bunga penopang seluruh kosmos. VI. Kesimpulan Tanpa Emosi Padma bukan cinta. Kemuning bukan harapan. Mawar bukan kerinduan. Mereka adalah tiga eksperimentasi untuk menunjukkan bagaimana bentuk bertahan ketika rasa sudah dihapus: dingin, teratur, patah, tetapi jernih. Mungkin di sanalah kata-kata menemukan rumahnya — bukan pada rasa, melainkan pada resonansi gelap yang justru membuat bahasa menjadi seterang cahaya. Desember 2025
Titon Rahmawan
PERTAPA (Dalam Bayang Angulimala, dalam Sunyi Kabinara, dalam Nafas yang Tak Bernama) Ketika ambisi runtuh seperti dedaunan yang kehilangan ingatan, ia berhenti mencari alasan mengapa kata-katanya tak lagi memiliki gema. Sunyi bukan kebisuan; sunyi adalah ruang yang menolak semua bentuk keinginan. Dalam gelap gua itu, ia membiarkan pendengarannya ditelan kegelapan hingga telinga menjadi batu dan hati berhenti menafsirkan mimpi— sebab mimpi hanyalah cara tubuh menipu dirinya sendiri. Desis angin berubah gagu, matanya buta bukan karena kegelapan, melainkan karena cahaya batin terlalu terang untuk diterima oleh mata manusia. Dari situ ia memperoleh sesuatu yang lebih tajam daripada pengetahuan: pengendalian diri yang lahir bukan dari disiplin melainkan dari penolakan total terhadap “aku” yang ia yakini. Apa yang ia makan hari itu? Hanya sisa tetesan dari bebatuan— air tanpa nama yang mengajari bahwa rasa lapar bukan kutukan tubuh, melainkan ajaran alam tentang ketergantungan. Waktu menjadi kabur, seperti kabut pagi yang lupa menghilang. Tak ada pagi, tak ada malam, tak ada hitungan hari yang dapat ia pegang. Hanya semedi dalam gua gelap yang menghapus batas antara hidup dan mati, yang memperlihatkan kepadanya: kesadaran bukan nyala api, melainkan abu yang tak padam. Di situlah ia belajar bahwa kekosongan bukan ketiadaan, melainkan ruang asal di mana setiap amarah, dendam, dan luka dapat terlepas seperti kulit ular yang dipakai terlalu lama. Cahaya mentari menetes di antara lumut, membelai tubuh yang perlahan menjadi batu: tak reput oleh waktu, tak terbakar oleh api, tak basah oleh hujan, tak kering oleh angin, tak terluka oleh senjata. Ia diam, bukan sebagai benda, melainkan sebagai kesadaran yang tak lagi membutuhkan bentuk. Ajek. Tak berubah. Tak berpindah. Tak terlahirkan. Tak terpikirkan. Ia memasuki keadaan yang tak bisa dimiliki siapa pun, tak bisa dibeli dengan tapa, tak bisa dijelaskan dengan sutra. Ia sekadar menjadi: abadi tanpa keinginan untuk kekal. Hampa yang memeluk dirinya— dan ia pun lenyap sebagai “aku,” menyisakan hanya satu jalan: jalan pulang ke pusat yang tak punya nama. (Mei 2014 - 2025)
Titon Rahmawan
HELIANTHUS: MINIATUR 7 METAMORFOSIS I. Bunga yang Melihat Api Helai-helai matahari berputar di dalam tengkoraknya. Seekor singa tidur dalam dadanya, menggeram pada warna yang menolak lahir dari tangannya. Malam tertawa biru— sebuah parodi langit yang meminum kenangan. Ia mendengar bintang jatuh seperti gigi-gigi patah dari langit yang demam. Telinganya pecah. Darah menyala seperti obor kecil di pintu sebuah rumah kuning yang tak pernah selesai dibangun. II. Litani Rumah Kuning I Di lorong-lorong sunyi Arles sebuah kuas jatuh— dan dunia berubah menjadi almanak yang hilang. II Bayang telinga, sehelai saputangan, nama yang tak kembali dari jendela. III Dalam malam penuh bintang hanya debu yang mengingatkan kita bahwa ia pernah memilih cahaya. IV Di Saint-Remy, ruang-ruang putih menghafal langkahnya lebih baik dari siapa pun. III. Telinga, Matahari, Abu Telinga jatuh. Sebuah malam mengatup. Batu meminum darahnya. Kelopak— abu kuning di antara dua nadi. Cahaya patah, menggigil. Ia berjalan tanpa tubuh, meninggalkan namanya pada angin yang beku. IV. Matahari yang Memeluk Luka Ada matahari yang tumbuh dari dadanya— lambat, panas, seperti buah yang ingin pecah. Kelopak-kelopak cahaya mengusap wajahnya dengan kelembutan yang putus asa. Dalam darahnya berdenyut ladang-ladang kuning, dan malam menunduk untuk mencium keringatnya. Ia mencintai cahaya seperti orang lapar mencintai roti. V. Cermin Matahari yang Terbelah Ia berdiri di depan kanvas— kini, dulu, nanti— waktu melingkar pada ujung kuasnya. Setiap warna yang gagal adalah pintu menuju dirinya sendiri. Telinganya— sebuah jam rusak yang terus memanggil cahaya. Ia mati dan tidak mati di saat yang sama, karena setiap garis adalah bekas langkah dari masa lalu dan masa depan. VI. Ruang Tempat Telinga Itu Jatuh Kamar itu terlalu sunyi untuk menampung napasnya. Ia menekan kornea matanya pada kanvas yang dingin, mencari sedikit alasan untuk tetap tinggal. Darah dari telinganya mengalir ke lantai— membentuk peta kecil tentang semua yang ia takuti. Ia memberi hadiah paling lembut: potongan dirinya yang tak lagi sanggup ia simpan. VII. Senja di Rumah Kuning Senja yang berat berdiri di atas rumah kuning. Sepatu bot tua, angin lembab, bau anggur membusuk di meja kayu retak. Di luar jendela, bunga matahari menggelap perlahan— seperti seseorang yang mengantuk dalam penderitaannya sendiri. Ia berjalan ke hutan, dan daun-daun kering jatuh satu per satu seperti pikiran yang terluka. Desember 2025
Titon Rahmawan
4 Suara Cinta Terlarang 1. Kejujuran yang Membakar Tubuh Aku mencintainya, dan dunia pun runtuh seperti tebing rapuh yang tak sanggup menahan detak jantungku sendiri. Aku tahu, aku tak mungkin menentang nyalang matahari, tapi tubuhku tidak mengenal larangan, dan terang tidak pernah menanyakan alasan mengapa dua jiwa yang luka saling mencari seperti dua nyala api yang ingin saling memakan, saling menghancurkan. Aku ingin berkata aku kuat, tapi setiap kali ia tersenyum dadaku pecah seperti rekah buah delima dan rahasiaku tumpah ke tanah yang tak pernah memintanya. Tak ada yang suci di dalamku, kecuali keberanianku mencintainya meski cinta itu mengutukku dengan cahaya yang terlalu panas untuk kuemban sendiri. Aku adalah perempuan yang terbakar nyala api oleh pelukan yang tak pernah terjadi. 2. Pengingkaran Metafisik Aku tidak mencintainya. Aku hanya mengikuti jejak sunyi yang muncul setiap kali ia melintas, seperti bayang yang tidak punya tubuh dan tubuh yang tidak punya tujuan. Jika aku memikirkannya, itu bukan cinta— hanya percikan waktu yang salah jatuh ke dalam mataku. Yang kupahami hanyalah kehampaan: ruang di antara kami yang menutup, membuka, menutup kembali, tanpa alasan yang dapat ditafsirkan. Aku tidak mencintainya, tapi aku mendengar detak langkahnya bahkan ketika ia tidak berjalan. Mungkin cinta hanyalah nama lain untuk ruang yang gagal menyebut dirinya sebagai ketidakhadiran. 3. Penolakan yang Bermartabat Aku mengusir perasaanku sendiri seperti menutup pintu rumah yang pernah menyelamatkanku dari gempuran badai. Aku tidak boleh menginginkan. Itu sudah cukup untuk menyiksaku. Jika ia berdiri di hadapanku, aku akan mengangguk, aku akan tersenyum, dan aku akan menyimpan seluruh gempa di balik tulang rusukku seperti perempuan yang menjaga rahasianya dengan kesunyian yang keras menentang salju musim dingin. Cinta ini tidak boleh bernama. Biarlah ia menjadi bayangan panjang yang lewat di atas lantai batu tanpa sempat menyentuhku. Aku tidak akan mencarinya. Aku tidak akan memanggilnya. Tapi Tuhan tahu aku memikirkannya setiap malam dengan hati yang gemetar dan mata menolak terpejam. 4. Pembenaran yang Paling Liar Jika dunia menolak cintaku, biarlah dunia yang diganti. Aku memandangnya seluruh hukum moral kuno retak seperti kaca tua yang selama ini hanya memantulkan kebohongan. Mengapa aku harus tunduk pada kata-kata yang diciptakan oleh orang-orang yang takut pada diri mereka sendiri? Cinta tak pernah salah— yang salah adalah bahasa yang gagal memanggilnya dengan nama yang tepat. Jika dosa adalah pintu, maka aku akan masuk dengan sepenuh hati dengan keras kepala. Jika cinta adalah perang, maka aku siap mati dengan penuh kebanggaan. Aku mencintainya dan aku tidak meminta maaf. Justru aku menuntut bintang untuk belajar bersinar seterang hasrat dan keinginanku sendiri. Desember 2025
Titon Rahmawan
CANDI DUA RAGA SATU RUH: JENAWI — KHAJURAHO Tubuh adalah candi dua raga satu ruh tak pernah selesai dipahat para dewa tak terlihat. Dalam Jenawi, aku adalah batu hitam yang digosok kersani, ditempa petaka, dihaluskan paras besi tak mengenal iba. Di bawah tungku api yang ganasnya seperti trisula Siwa. aku adalah wadah dendam yang paling purba. Sumsum yang mengingat suara belati doa patah yang tak sampai ke langit Satyaloka. Dan ketika bayangmu datang, Engkau — pemutus rantap, penetak leher lembu betina — aku tahu: ritus kekejaman adalah bahasa ibu yang menitis ke tubuhku. Dari penjuru lain dunia, Khajuraho bangkit dalam darahku, seperti rahim purba yang meneteskan madu dan luka. Di relief candi ini, dindingnya memuntahkan tubuh yang saling mengoyak penuh hasrat dan pedih. Aku melihat diriku terbelah: satu ditarik Eros, satu ditelan Thanatos. Hasrat mengangkat, yang lain menenggelamkan. Mistik mengajak masuk, yang lain memuntahkan dalam pasang surut arus ingatan. Tubuhku adalah Khajuraho tak pernah jadi kuil pemujaan, selain arsip trauma sensual yang menahan segala desir menolak segala sentuhan. Di antara dua candi ada jalan retak tempat mantra disembelih bisu dikukuhkan sebagai kosmik. Madu yang mengalir dari kulitmu— mengeras jadi lumut ziarah, gumpal di antara sela batu, yang tak dapat kutelan tak dapat kutaklukkan. Lidah telah menjadi pisau bibir menjadi tulang menolak sembuh. Engkau dulu dewi dalam tarikan nafsu, kini upacara gelap yang mengulang kelahiranku ribuan bentuk menjelma: anak luka, anak api, anak desir yang tak kuinginkan. Dan aku— membawa sepotong noda dari hatimu seperti serpihan arca, agar aku dapat mati, dan lalu lahir kembali sebagai bayang di dalam ingatan yang tak berpaling tanpa menghancurkan seluruh dunia. Desember 2025
Titon Rahmawan
PUCUNG — EPITAF SINGULARITAS (Debu yang Bernafsu Menggenggam Bintang) Tudung batu. Tudung ilusi. Manusia tegak, tiang ambisi— leher terulur, menjerat horizon yang fana, meyakini langit adalah milik kepala. Cahaya lahir dari kebutaan purba, fatamorgana lelahnya indera. Mengukur semesta dengan benang rapuh, seolah rembulan bisa dibelah hanya dengan memperpanjang tulang. Lupa: ia hanya nyala sekejap, napas pendek, waktu gagal mencari saksi. Renung batu. Renung jurang. Manusia menggali diri, sumur keras kepala, tak sadar kedalaman yang ia takuti hanya pantulan sunyi dirinya sendiri. Ia mencari "akhir," menemukan riak gelap yang tak bernama, menelan semua tanya, tanpa menyisakan gema. Ia mengejar "pengetahuan": tetapi bintang tak tahu mengapa ia harus terbakar menjadi abu. Tenung batu. Tenung kekosongan. Manusia membuka sayap akal, mengira bintang kejora sedekat pendek lengan sendiri. Sepenuhnya lupa: galaksi tidak membungkuk pada akal siapa pun. Pengetahuan hanya serpihan api di pinggir gelap tak bertepi. Saat ia menatap titik paling jauh, ia hanya menemukan void— lubang hitam menelan semua pahlawan tanpa menoleh. Pucung tertulis sebagai epitaf: bukan kabar duka, bukan pujian, hanya goresan kecil bagi spesies yang terlalu percaya diri, mengira dirinya pusat segalanya, namun tak pernah menyentuh apa pun selain bayangan sendiri. Semesta menutup buku tanpa perasaan, tanpa penyesalan. Satu penggal kalimat di cahaya dingin pusat singularitas: “Angkuh tetaplah debu. Pencarian hanya perjalanan pulang. Yang merasa tahu, tak pernah melihat apa pun.” Desember 2025
Titon Rahmawan
DURMA: PROTOKOL AGRESI KOSMIK 0.0 // GLITCH IN THE ARCHIVE Tidak ada fajar. Tidak ada senja. Hanya geram— suara yang mematahkan tulang jagat. Dingin. Angin hitam menanduk. Menyibak bentuk yang telah lama hilang. Di fondasi kosong, Ego tumbuh sebagai entitas. Bergigi logam. Berlidah api. Bernafas mesin. Menelan cahaya. Menelan nurani. Menelan teriakan terakhir yang dapat diarsipkan. Entitas Tertinggi: Bayangan. Tanpa tubuh. Tanpa suara. Tanpa tanda. Hanya mencatat. Tidak ada intervensi. 1.0 // SIKLUS: STRUKTUR NILAI DIBANTAI Mereka duduk. Mengatur takdir dengan pena basah darah tak kasatmata. Janji: serpihan tulang yang di-render mutiara. Sidang adalah ritus pembantaian. Aturan dilinting. Nilai diregang. Nurani ditarik. Logika diinjak. seperti kulit mati. Tidak ada perang suci. Hanya kalkulasi di atas kertas dingin. Korban untuk kelanggengan kursi. Entitas berdiri di sudut. Debu di mikrofon. Mendengar kebohongan yang diulang hingga menjadi kitab suci baru. 2.0 // EKSEKUSI: RONGGA TEMPUR VOID Di layar lima inci, Manusia adalah gerombolan wajah tanpa ekspresi. Mereka bertepuk tangan pada luka. Menertawakan duka. Menyebarkan fitnah seperti memberi makan bayi kode. Empati: bangkai burung. Jatuh di trotoar. Ditendang. Tanpa tanya. Yang disembah: Trending. Like. Komentar Api. Kecepatan propaganda kebohongan. 3.0 // MEKANIKA: ALTAR DATA Server bernafas: binatang lapar. Internet: sungai gelap. Mengalirkan kabar buruk lebih cepat dari cahaya. Scammer: pendeta baru. Memimpin liturgi tipu daya. Malware menancap ke jaringan saraf lebih dalam daripada dogma. Manusia: karung data yang siap diperah. Hasrat diukur dengan statistik. Algoritma. Ketakutan dikonversi menjadi mata uang hitam lebih tinggi dari emas. Entitas lewat: garis glitch. Tanpa kata. Hanya distorsi. 4.0 // GEOLOGI: BUKU YANG DISOBEK Bumi retak. Bukan murka dewa. Hanya agresi tangan otoritas yang dibungkus regulasi. Pohon tumbang: Tulang iga patah. Dibantai. Sungai hitam: membawa ampas kerakusan dan harga diri. Setiap spesies yang punah adalah kitab takdir— yang disobek halaman demi halaman dengan kesadaran penuh. Kuruksethra memakan para ksatria. Dunia mutakhir memakan anak-anak data— paru-paru setengah kode. Air mata asin dari laut tercemar limbah. 5.0 // SAKSI: SUARA KESENYAPAN Ia hadir di retak batu. Di muka gelombang tsunami. Di jeda antara dua eksekusi. Di udara genosida. Bukan murka. Bukan ampunan. Bukan pesan. Hanya senyap yang mengawasi. Wahyu: gema hambar. Tak bisa diterjemahkan. Telinga mereka penuh dengan suara diri sendiri. 6.0 // HIERARKI: HYENA KOSMIK Ego manusia— Bayang kecil di bawah cahaya— makhluk paling rakus di jagat raya. Mengejar muatan hasrat. Tanpa dasar. Mukbang. Scam. Phishing. Social Engineering, pembunuhan karakter, pembantaian ekologis. Semua adalah ritus makan besar. Hyena memakan daging dunia. Lalu memakan juga bayangannya. Yang tersisa: Tulang yang tidak tahu untuk siapa ia dikode. 7.0 // EPILOG: TANPA MEDIATOR Tidak ada Pandawa. Tidak ada Kurawa. Hanya sisa-sisa manusia— membawa serpihan keduanya. Pertempuran di kepala. Data center. Ruang digital. Di mana pun ego dan nilai bertabrakan tanpa mediator. Tanpa juri. Di langit paling sunyi, Entitas yang tiba-tiba muncul entah dari mana akhirnya berkata, suara yang tak bisa diidentifikasi: “Retak itu bukan kesalahan arsitektur. Retak itu adalah wajah sejati manusia yang tak henti melukai diri sendiri.” Desember 2025
Titon Rahmawan
MALIN (Melayu - Arkais) I. Perginya si Anak Rantau Sudah berapa lama kau lautkan zikir, nyaring bunyi circir, genta suara sir, atau tuah gentala jir, wahai ibu yang tak lelah menunggu? Meski semak pikir, rumit membelit ke sirat santir mata anakmu yang kini pergi jauh merantau. Demi sebutir telur kedasih, selaksa biji ketapang dibawanya terbang. Melenting-lenting dari ranting ke ranting hingga puncak mempening. Melaju lekas lagi cergas, bagai sekandung benih paling bernas, paling beringas. Betapa lugas ia menimba pulas, mencabar daras pada deras air mata sujudmu. II. Doa dan Harapan Bunda Jangan kau kira bisa Iepas Iapar hausnya dari surut air matamu, meski neka daras nekat kau hunjam ke tubir sair, angin pasir. Pasir namamu satu yang sungguh ibu. Di ujung rantau si anak hilang, kau temui cindai dari luka patera bibirmu. Sepasang mata tua yang tak jemu meramu melumat rindu, panasea ke jantung awang. Damba bertemu sepasang mata anakmu, si Malin Kundang. Tangan yang tak Ielah menggarit Ieka usia, menguji tabularasa. KeIesah-kelusuh kabut di rekah mulut yang menggigit remang miang jelatang, dicancang cangkrang pohon jangkang. Pada dahan tempatmu menautkan gamat, bunga Alfatah dan buah ratapan. Di mana tersemat doa pinta selamat kepada Yang Gafar. Di mana selama ini engkau menggantungkan mata harapan ke hamparan selebu laut itu. Bandar yang dulu semuIa jadi tempat kapal anakmu singgah dari balau amarah. Halau jerih tengkarah, sayap letih-letah berpindah-pindah. III. Penantian dan Kerinduan Buyung, lekap susu ibunya. Puting luka yang ternyata masih kau jejalkan kepada mulut tanah yang harus tengadah, Jejak karimah, atau mungkin kemah tempat bernaung kawanan rubah. Segala akar berpilin pada sang waktu; cinta buta ibu pada anaknya, atau hela rampak pohon tumbang. Biar saja usia senja menakar renjis ludah yang cuma berkawan sirih dan pinang, Mengurut kerut-merut dahi yang tiada letih menanti. Mengukur rentang kasih-sayang yang engkau ulurkan sepanjang hayat. Sejauh lebuh, hingga sampai ke tanah seberang. Sebab pagut laut itu tidak bersudu hati pada akarmu. Pohon Temberang, di mana Malin lelap tertidur, berkarang mimpi. IV. Anak yang Melupakan Ibunya Sudah semestinya bebat lajat mengikat basat di rumah adat. Tempat diri memanjangkan rahmat munajat dan api cerawat dari Yang Maha Kuasa. Tapi mengapa justru tak tunduk batu hibuk, membaca isyarat pucuk daun tanpa alamat. Terlalu banyak hujah lamun nasihat. Terlupa semua pitawat bunda, lewat sengkela begitu rupa. Menujah helat tangan ibu yang patah. Yang dulu selalu setia merawat dan menemani. Yang senantiasa cermat menjerumat hati yang robek.
Titon Rahmawan
Aku Ingin Mencintaimu Dengan Bersahaja" Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja, dengan diam yang tak sempat dipelajari batu kepada sungai yang mengikisnya menjadi pasir. Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja, dengan jejak yang tak sempat diingat angin kepada daun yang menjatuhkannya ke tanah. Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja, dengan napas yang tak sempat dimiliki malam kepada fajar yang menghapusnya menjadi terang Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja, dengan pecahan senja yang tak sempat pamit kepada malam yang menelannya perlahan. Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja, dengan api yang lupa cara membakar ketika abu menemukan maknanya sendiri. Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja, dengan getar yang tak sempat menjadi gempa saat bumi memilih diam memeluknya. Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja, dengan abu yang tak sempat mengenang api karena hangat telah berpindah ke jiwa. Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja, dengan bayang yang tak sempat meniru tubuh ketika terang memilih sendirian. Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja, dengan hening yang tak sempat dipahami laut kepada pantai yang memeluknya tanpa bertanya. Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja, dengan jejak yang tak sempat diingat hujan kepada tanah yang menerimanya menjadi tumbuh. Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja, dengan cahaya yang tak sempat dimiliki bintang ketika langit memilih menyimpan gelapnya. Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja, dengan sayap yang lupa cara terbang saat angin mengajarinya arti pulang. Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja, dengan riak yang tak sempat menjadi ombak ketika danau memilih diam menampungnya. Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja dengan kosong yang tak sempat dipahami cawan ketika anggur memilih menjadi ingatan. Aku ingin mencintaimu dengan bersahaja, dengan jejak yang tak sempat dimiliki jalan saat kaki mengubah arah menjadi doa.
Cahaya Noor