“
PADMA–KEMUNING–MAWAR: SEBUAH BARZANJI
I. Padma
Padma bukan kelopak,
melainkan retakan air
yang membuka diri kepada gelap.
Ia tumbuh dari nadi lumpur,
menghafal sunyi yang kesepian
menggigil pada cahaya
yang tidak pernah tiba.
Di dasar kolam,
waktu adalah batu dingin
yang terus mengulang pertanyaan
yang sama:
“Dari mana datang napasmu
jika bukan dari luka paling purba?”
Maka padma menjawab tanpa suara:
dengan menggantungkan seluruh keberadaannya
pada seutas kesunyian
yang tidak bisa dipotong.
II. Kemuning
Kemuning adalah api yang tidak jadi api.
Ia karam dalam tubuhnya sendiri,
hanya menyisakan aroma halus
dari ketakutan yang terlambat diucapkan.
Daunnya kuning bukan karena usia,
melainkan karena kosmos pernah memalingkan wajah,
dan seluruh pigmen cahaya
merosot seperti debu altar.
Ia berdiri sebagai bukti:
keindahan tidak butuh gairah,
tidak butuh puisi asmara,
tidak butuh mata yang memujinya.
Ia hanya butuh kehilangan
agar warnanya dapat bertahan.
III. Mawar
Mawar adalah mesin luka.
Di antara durinya,
alpa sejarah yang tidak
menginginkan simpati.
Merahnya bukan desir cinta,
melainkan gema paling jauh
dari tragedi yang menolak dikenang.
Setiap kelopak adalah arsip
tentang tubuh-tubuh yang pernah meminta cahaya
dan gagal.
Mawar tidak harum —
yang menguar hanyalah ingatan besi,
bau logam dari sesuatu yang pernah patah
namun tidak mau diratapi.
IV. Barzanji Tiga Bunga
Padma, Kemuning, Mawar:
tiga bahasa yang diseret manusia
ke dunia romantik,
lalu dipaksa menjadi simbol manis
perasaan yang bukan
perasaan.
Dalam kosmologi sajak ini,
ketiganya dicuci dari sentimen
hingga tersisa: tulang makna.
Kerangka purba.
Suara mineral yang tidak
mengenal cinta.
Padma adalah awal air.
Kemuning adalah jeda cahaya.
Mawar adalah jantung kosmos.
Tiga altar
dalam satu ruang
yang tidak punya
identitas.
V. Mantra Retakan
Ini bukan kisah wewangian.
Ini bukan kisah keindahan
yang ingin dipeluk.
Ini adalah:
batu yang menolak lembut,
air yang menghapus pantulan,
api yang tidak menyala,
angin yang kehilangan arah,
cahaya yang tidak sempat tiba,
gelap yang tidak menaklukan.
ketegangan yang menelurkan bahasa
ketegangan yang memaksa
tiga bunga mekar
tanpa mitos,
tanpa asmara,
tanpa melodrama.
Cangkang struktur metafisik,
ketegangan sunyi yang retak,
dan tubuh bunga penopang
seluruh kosmos.
VI. Kesimpulan Tanpa Emosi
Padma bukan cinta.
Kemuning bukan harapan.
Mawar bukan kerinduan.
Mereka adalah
tiga eksperimentasi
untuk menunjukkan
bagaimana bentuk bertahan
ketika rasa sudah dihapus:
dingin, teratur, patah,
tetapi jernih.
Mungkin di sanalah kata-kata menemukan rumahnya —
bukan pada rasa,
melainkan pada resonansi gelap
yang justru membuat bahasa
menjadi seterang cahaya.
Desember 2025
”
”