Aku Kuat Quotes

We've searched our database for all the quotes and captions related to Aku Kuat. Here they are! All 42 of them:

Aku tak pernah percaya kebetulan, Nona. Aku hanya percaya bahwa apa pun bisa terjadi jika keinginan kita terlampau kuat. Terutama setelah kita menerima perlakukan tidak adil.
Prisca Primasari (Evergreen)
Sudah lama telepon genggam saya mengenggam tangan saya. Genggamannya lebih kuat dari genggaman tangan saya padanya
Joko Pinurbo (Haduh, aku di-follow)
Aku ingin menulis ini untuk Ibuk, Bapak, dan perjuangan mereka yang kokoh. Tangan kuat mereka telah membawa anak-anaknya ke tempat yang lebih indah.
Iwan Setyawan (Ibuk,)
Aku suka matamu. Seperti mata rusa. Rapuh sekaligus kuat.
Devania Annesya (X: Kenangan yang Berpulang)
Aku tak tahu kenapa rasa ini masih terlalu kuat untukku bertahan diantara jarak. Kamu dan aku, kita sudah berbeda tempat. Keberadaanmu kini melewati berbagai provinsi di tempatku diam.
Syifa Syafira
Sekarang, aku belajar satu hal; aku tidak perlu pergi jauh-jauh untuk menemukan apa yang aku cari. Karena orang yang kucari selama ini sudah berdiri setia di sampingku, menanti kepastian, tapi aku sempat tidak menyadarinya. Aku menyayangimu, dan perasaan ini jauh lebih kuat dari cinta.
Alvi Syahrin (Swiss: Little Snow in Zürich)
Aku harus kuat, tekadku. Apapun yang terjadi dan tengah menimpaku saat ini tidak boleh membuatku lemah.
Dian Nafi (Ayah, Lelaki Itu Mengkhianatiku)
aku tunjang cengal, cekal pada derita aku rotan jelutung, melentur dalam keadaan aku kemiri hutan, keras dalam dugaan. (Kususuri Jalan Ini)
Hamir Habeeb Mohd (Ceritera dari Daerah Luruh)
Lalu seakan semuanya lapang, kosong, tak ada siapa pun di sana, kecuali aku dan Dia. Dalam jarak yang tak terkatakan dekatnya, sedemikian dekat. Perlahan kehangatan, kekuatan hati, dan jiwa kudekap.
Dian Nafi (Miss Backpacker Naik Haji)
Teruntuk kamu "teman"ku Awalnya… Aku yang tak pernah berencana mengenalmu Namun… Aku tak pernah menyesal mendengar kisahmu bersama yang bukan aku Bahkan menatap kesedihan dan kebahagiaan lewat matamu Adalah hal yang kini tengah kurindu Aku berbohong jika hatiku berkata “Aku telah tau konsekuensi terlalu dalam memasuki hidupmu, jadi aku tidak akan jatuh” Karena nyatanya berada didekatmu sama halnya dengan menggali sebuah lobang Dan menatapmu adalah caraku menjatuhkan diri dari lobang yang telah kugali Kuakui, aku yang terlalu bertingkah seakan aku kuat akan segalanya Sehingga ada hal yang membuatku sadar kuatku hanya bualan kata Jatuhku… Dan Pergimu…
ninanind
Aku tahu seharusnya aku menjadi wanita kuat yang tegar dalam menghadapi berbagai masalah. Tapi... bukankah kita boleh menangis kalau memang itu membuat kita menjadi lebih tenang?
Cindy Pricilla (Rain in Paris: je vais aimer la pluie...)
Kadang-kadang manusia ini tak kuasa melawan kenang-kenangannya sendiri. Dan tersenyum aku oleh keinsyafan itu. Ya, kadang-kadang tak sadar manusia terlampau kuat dan menenggelamkan kesadarannya. Aku tersenyum lagi.
Pramoedya Ananta Toer (Bukan Pasar Malam)
7 ALASAN MENCELA DIRI Tujuh kali aku pernah mencela jiwaku, Pertama kali ketika aku melihatnya lemah padahal seharusnya ia bisa kuat Kedua kali ketika melihatnya berjalan terjongket-jongket, dihadapan orang yang lumpuh Ketiga kali ketika berhadapan dengan pilihan yang sulit dan mudah ia memilih yang mudah Keempat kalinya, ketika ia melakukan kesalahan dan coba menghibur diri dengan mengatakan bahwa semua orang juga melakukan kesalahan Kelima kali, ia menghindar karena takut, lalu mengatakannya sebagai sabar Keenam kali, ketika ia mengejek kepada seraut wajah buruk padahal ia tahu, bahwa wajah itu adalah salah satu topeng yang sering ia pakai Dan ketujuh, ketika ia menyanyikan lagu pujian dan menganggap itu sebagai suatu yang bermanfaat
Kahlil Gibran
Kau tahu? Saat melakukan perjalanan denganmu dulu, aku menyesali satu hal. Aku menyesal karena diriku tak cukup kuat untuk bisa menjagamu selama perjalanan. Saat itu aku berpikir, mungkin jika aku adalah seorang ahli medis atau bahkan seorang dokter, aku bisa membawamu ke mana saja, menjagamu ke mana pun kita pergi.
Ghyna Amanda Putri (Haru no Tabi)
Selama kamu ada di samping aku, itu yang membuat aku semakin kuat dan berarti
LoveinParisSeason2
Aku lelaki, tapi aku menangis. Aku tak kuat, aku memang tak guna. Aku malu dengan diri aku sendiri,
Abstrakim (INTROVERT)
Ya... aku tau mungkin akan sulit atau mustahil bagiku untuk ngebantuin kamu. Tapi paling nggak, dengan menceritakan permasalahan yang kamu hadapi pada orang lain, kamu akan menjadi sedikit lebih kuat.
Anastasia Ervina (How can I Forget You?)
Ya, aku ingin seperti cadas yang telah tawakal dan pasrah diri untuk menerima gempuran-gempuran buih kenyataan yang didorong oleh badai takdir. Seperti cadas, Aku ingin dengan gempuran itu diriku menjadi jauh lebih kuat dari sebelum-sebelumnya
Muhidin M. Dahlan (Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur!)
Engkau tahu apa artinya Indonesia? Indonesia adalah pohon yang kuat dan indah itu. Indinesia adalah langit yangbiru dan terang itu. Indonesia adalah mega putih yang bergerak pelan itu. Ia adalah udara yang hangat. Saudara-saudaraku yang tercinta, laut yang menderu-deru memukul-mukul ke pantai di waktu senja, bagiku adalah jiwanya Indonesia yang bergolak dalam gemuruhnya gelombang samudera. Bila kudengar anak-anak tertawa, aku mendengar Indinesia. Bila aku menghirup untaian bunga, aku menghirup Indonesia. Inilah arti tanah air kita bagiku.
Cindy Adams (Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia)
Sylvi,” katamu. ”Kamu nggak inget, ya?” ”Inget apa?” ”Kita kan satu kelompok waktu MOS dulu.” Apa? ”Kita lari keliling lapangan bola di belakang sekolah. Kamu pingsan.” Apa? ”Kamu menarik-narik bajuku waktu aku menggendongmu ke tim PMR.” Apa? Kamu menunduk ragu-ragu, seolah agak tidak enak. ”Dan kamu bilang kamu cinta padaku. Ingat?” Apa? Lalu kamu tergelak kuat-kuat.
Miranda Malonka (Sylvia's Letters)
Aku telah melakukan kesalahan dalam hidupku. Di masa silam aku telah mengakuinya dan pengakuan itu menimbulkan kekuatan. Tetapi keberanian dari seseorang terletak pada keyakinannya bahwa dia telah bertindak benar. Aku tidak akan hidup, jika tidak yakin dengan kuat dan pasti, bahwa apa yang kukerjakan waktu itu adalah benar. Kalau tidak begitu aku merupakan orang yang lemah.
Cindy Adams (Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia)
Aku mempunyai alasan kuat untuk menduga bahwa planet asal Pangeran Cilik itu ialah Asteroid B 612. Asteroid itu hanya satu kali dilihat dengan teleskop pada tahun 1909 oleh seorang astronom Turki. Ia mengemukakan penemuannya dengan panjang-lebar pada suatu Kongres Astronomi Internasional. Tapi tidak seorang pun memercayainya gara-gara pakaiannya. Begitulah orang-orang dewasa.
Antoine de Saint-Exupéry (The Little Prince)
Demokrasi Indonesia, yang banyak disalahpahami di luar negeri kami, didasarkan pada prinsip mufakat, bukan pada jumlah suara. Kami tidak lagi memakai sistem demokrasi Barat ini yang didasarkan atas suara terbanyak, dimana 51 persen suara berhak untuk menang sementara yang 49 persen menggerutu. Sebagaimana yang telah kami alami dengan 40 partai politik, golongan yang tidak puas membalas dengan menghantam lawannya. Ini adalah jalan yang baik bagi suatu bangsa yang masih muda ubtuk menghadapi perkembangannya sendiri. Untuk mempertahankan prinsip-prinsip demokrasi Indonesi di atas mana Undang-Undang Dasar '45 disusun, aku menyarankan musyawarah untuk mufakat, suatu modus operandi yang asli dari suku-suku bangsa Indonesia. Selama beribu-ribu tahun para kepala desa dari Kepulauan Indonesia menjalankan pemerintahan dengan duduk bersama di sebuah dewan, dimana setiap suku itu mengajukan masalahnya melalui alasan-alasan yang menyakinkan. Setelah itu, salah seorang akan berkata, "Alasan saudara memang baik, tetapi aku tetap berfikir lebih baik begini." Yang lain berkata "Saya tidak sepenuhnya setuju, tapi memang ada beberapa hal yang baik dari pendapat Saudara itu." Musyawarah selanjutnya mengambil dari sini dan sana, itulah akhirnya yang disebut mufakat. Singkat kata, setiap orang menyumbangkan suatu pemikiran. Dalam Demokrasi Terpimpin yang menjadi unsur kunci adalah kepemimpinan. Setelah mendengarkan pandangan umum dan pandangan yang menentang, pemimpun rapat menyimpulkan pokok-pokok yang dibahas menjadi satu keputusan yang disetujui setiap pihak. Tidak ada pihak yang menang secara mutlak dengan menyingkirkan pihak lain. Hanya kepemimpjnan yang kuat yang mampu memadukan keputusan terakhir, kalau tidak demikian sistem ini tidak akan berjalan. Sang Pemimpin, apakah dia seorang kepala desa, apakah dia Bung Karno, ataukah dia seorang menteri yang berwibawa, menggabungkan sejumlah pendapat si anu, ditambah sedikit pendapat si polan, dengan selalu memperhatikan untuk menggabungkan berbagai pendapat yang berlawanan. Kemudian dia menyajikan hasil terakhirnya dan berkata, "Baiklah, Saudara-saudara, beginilah jadinya dan saya harap saudara semua setuju..." Ini tetap demokratis, karena setiap orang memberikan pendapatnya. Mengatakan hal ini sebagai sistem komunistis, jelas sangat menggelikan.
Cindy Adams (Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia)
Optimisme adalah seperti otot yang menjadi lebih kuat jika digunakan. Ketika Anda ingin membangun sebuah otot, Anda harus terus menggunakannya. Itulah yang harus Anda lakukan. Aku adalah seorang optimis abadi, jadi aku bisa menemukan garis-garis perak kecil di tepian awan itu, kemenangan-kemenangan moral yang kecil itu. Diperlukan keberanian untuk percaya bahwa yang terbaik sedang menjelang. Robin Roberts
Oprah Winfrey (The Path Made Clear: Discovering Your Life's Direction and Purpose)
Bila satu negara baru lahir dan orang-orang yang sebelumnya tidak pernah punya apa-apa itu ditempatkan pada jabatan yang "basah", terdapatlah salah urus dan korupsi, bahkan pada kalangan atas. Baru-baru ini aku mengeluarkan ancaman hukuman mati untuk pengacau ekonomi. Seorang pemilik penggilingan padi membuat harga beras membumbung tinggi dengan menimbun enam ribu ton. Bila dia nanti ternyata bersalah, aku sendiri yang akan menandatangani perintah hukuman mati terhadapnya. Banyak dari para pengusaha kami menyimpan hartanya di bank luar negeri. Aku tahu hal itu. Tetapi selagi mereka bekerja membantu kami, bukan menentang kami, hak milik perorangan tidak akan dihapus sebagaimana di sejumlah negara sosialis lain. Sukarno dengan gembira membolehkan warga negaranya kaya. Beberapa orang kawanku sendiri adalah kapitalis-sosialis. Tetapi hal itu harus dibatasi. Mereka yang menghisap kekayaan negara dan menjadi patriot apabila sakunya berisi, akan ditembak mati. Undang-undang kami sekarang harus tegas, atau ekonomi kami tidak pernah beres. Di negara Barat kehidupan sangat menyenangkan. Orang bisa membeli gula, dasi bagus, barang-barang mewah seperti lipstik dan krim wajah. Di Timur terjadi kekurangan yang serius. Di negara-negara kapitalis orang dapat bergerak bebas. Di negara-negara sosialis apa yang disebut kebebasan tidak ada. Bahkan kelaparan masih sering terjadi. Ada pembatasan di setiap bidang, ini bukan karena sistem kami yang salah, melainkan karena kami masih dalam proses mewujudkan cita-cita. Menderita akan membuat kuat. Aku tidak menghendaki rakyatku menderita, tetapi kalau semua diperoleh dengan mudah, mereka pikir Bung Karno adalah Sinterklas. Mereka akan duduk saja menunggu Sukarno mengerjakan semua untuk mereka. Mungkin kalau aku memiliki kemampuan untuk memberikan kesenangan, aku tidak akan menjadi pemimpin yang baik. Aku harus memberi rakyatku makanan untuk jiwanya bukan hanya untuk perutnya. Seandainya aku memakai semua uang untuk membeli beras, mungkin aku akan dapat mengatasi kelaparan mereka. Tapi bila aku memiliki uang 5 dollar, aku akan mengeluarkan 2.50 dollar untuk membuat mereka kuat. Membesarkan suatu bangsa merupakan pekerjaan kompleks. Semangat suatu bangsa yang pernah tertindas tidak boleh disia-siakan. Di Kalimantan Barat sungainya tidak dapat di lewati, perhubungan tidak mungkin diadakan. Sebagian besar bahan makanannya diimpor. Ketika aku pertamakali berkunjung ke sana, tahukah engkau apa yang sangat mereka inginkan? Bukan bantuan teknis. Bukan pembangunan pertanian. Tapi sebuah fakultas hukum! Dan begitulah sekarang telah berdiri sebuah universitas di tengah-tengah rimb raya Kalimantan. Manusia tidak hanya hidup untuk makan. Meski gang-gang di Jakarta penuh lumpur dan jalanan masih kurang, aku memutuskan membangun gedung-gedung bertingkat, jembatan berbentuk daun semanggu, dan sebuah jalan raya "superhighway", Jakarta Bypass. Aku juga menamai kembali jalan-jalan dengan nama para pahlawan kami. Jalan Diponegoro, Jalan Thamrin, Jalan Cokroaminoto. Aku menganggao pengeluaran uang untuk simbol-simbol penting seperti itu tidak akan sia-sia. Aku harus membuat bangsa Indonesia bangga terhadap diri mereka. Mereka sudah terlalu lama kehilangan harga diri. Banyak orang memiliki wawasan picik dengan mentalitas warung kelontong menghitung-hitung pengeluaran itu dan menuduhku menghambur-hamburkan uang rakyat. Ini semua bukankah untuk keagunganku, tapi agar seluruh bangsaku dihargai seluruh dunia. Seluruh negeriku membeku ketia Asian Games 1962 akan diselenggarakan di ibukotanya. Kami lalu mendirikan stadion dengan atap melingkar yang tak ada duanya di dunia. Kota-kota di mancanegara memiliki stadion yang lebih besar, tetapi tak ada yang memiliki atap melingkar. Ya, memberantas kelaparan memang penting, tetapi memberi jiwa mereka yang telah tertindas dengan sesuatu yang dapat membangkitkan kebanggaan ini juga penting.
Cindy Adams (Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia)
Bukan mahu dendam, kadang hanya dengan mengingati kekejaman dan keperitan, bisa menjadikan kau kuat. Bukan mahu dendam, tetapi mengenang kebaikan dan kemanisan mengikat kau ke masa belakang. Bukan mahu dendam, cuma acap kali teringat kemanisan airmata berguguran merindukan. Bukan mahu dendam, biarlah luka itu aku terima tapi ku ulang, agar hati kering, untuk langkah ke hadapan.
mardia
aku takkan benarkan engkau kalah walaupun aku bukan seorang pemenang. Aku takkan benarkan engkau sedih walaupun aku juga jarang bertemu gembira. Engkau perlu bangun. Hidup ini bukan untuk menoleh ke belakang mengutip kepedihan. Hidup perlu kuat.
Zalila Isa (Seratus Rumah yang Sunyi)
Ujian tak putus-putus datang selagi nyawa berada dalam jasad. Ujian juga tarbiah untuk dekatkan diri dengan Allah. Kuat terletak pada iman. Tabah terletak pada takwa. Semakin susah dugaan, semakin gagah kau berdoa. Kalau mampu menangis, kau menangislah. Jangan malu untuk mengadu kesulitan kau. Dia pasti tunjukkan solusi yang kau pohon.
Aii Fariza (Makmum yang Paling Aku Cinta)
Aku bertahan dan kuat berdiri bukan karena diriku sendiri. Alam semesta pemberi tak berkesudahan, dan Dia-lah sumber pemberi itu.
Antoni Ludfi Arifin (UP: Super Vision, Super Action!)
Sebelum tidur ia berdoa, "semoga lima jam lagi aku terjaga dan kuat menghadapi luka yang sama.
Nailal Fahmi (Anak yang Bercakap-cakap dengan Tuhan)
O, sungguh gila aku, kalau aku mencoba menangkap kamu dengan kekuatan. Tubuhmu terlalu kuat. Manusia tak punya banyak kesempatan menang bergulat dengan macan. Tapi untunglah ia lebih pandai. Tidak banyak orang yang membantah kenyataan bahwa macan lebih rendah dari manusia.
Eiji Yoshikawa (Musashi - Buku Pertama : Tanah)
Aku bukan orang yang keras bercita-cita, Sap. Bukan perempuan yang mau menguasai dunia dengan kecerdasan dan kemampuan. Bukan. Aku pilih bercita-cita jadi istri yang setia. Aku menyiapkan diriku untuk menjadi istri laki-laki apa saja, kaya, miskin, berambisi, pekerja tekun. Aku mesti sesuaikan dengan suami macam apa, peringkat berapa, bertabiat bagaimana, berpangkat apa. Aku akan siap dan sanggup membantu agar perkawinanku kuat, rukun, tentram. Inilah kehidupan berumah tangga yang dibebankan kepadaku. Aku terima. Dan kami sepakat untuk menciptakan kerukunan.
Suparto Brata
Aku sangka tubuhku cukup kuat berjalan setelah hujan, tetapi angin kumbang dan gigil siapa yang membekapku?
Ibe S. Palogai (Struktur Cinta Yang Pudar)
*Untaian Merjan Rangkaian Proses: Dari Putus Asa hingga Meraih Kebahagiaan Sejati* Hidup bukanlah jalan lurus yang penuh cahaya, tetapi lorong panjang yang berliku, penuh dinding gelap, penuh batu tajam. Ada saat kita terjatuh, tersungkur, terluka hingga dunia tampak seperti musuh yang tak mengenal belas kasihan. Namun ingatlah— putus asa bukanlah sebuah opsi. Selama hidup masih berdenyut di dada, maka menyerah tidak pernah menjadi pilihan. Putus asa hanya benar-benar lahir saat harapan telah mati, saat peluang habis, saat kematian menjadi satu-satunya jalan keluar. Kita pun belajar, bahwa penghalang terbesar dalam perjalanan bukanlah dunia luar, melainkan diri sendiri—sekadar mencari validasi: ego yang meninggi, harga diri yang menolak disentuh, perasaan “aku paling tahu, paling pintar, paling hebat.” Di situlah langkah kita sering tersandung, pertumbuhan mandek, kemajuan berhenti. Lalu bagaimana seorang perintis bisa menjadi besar? Bagaimana seorang pemimpi bisa menyalakan dunia? Ia harus rela memulai dari fondasi, sebuah batu pijakan, sebuah langkah: membangun kepercayaan, menjaga reputasi, mencari relasi, melahirkan peluang, mengkapitalisasi modal, menjaga aliran, menahan badai, dan tetap memelihara pertumbuhan. Sebab realitas memang kejam: nilai manusia sering hanya diukur dari apa yang ia hasilkan, kontribusi apa yang ia beri, prestasi apa yang ia capai. Jarang ada yang menghargai proses, padahal proseslah yang menjadi guru sejati manusia. Proses— yang menajamkan kecerdasan, menempa ketangguhan, menyalakan kesabaran, menumbuhkan ketekunan. Proses adalah jembatan antara kelemahan dan keunggulan, antara kekalahan dan kemenangan. Tanpa proses, hasil hanyalah fatamorgana: indah di permukaan, rapuh di dalam. Namun dunia kini berjalan terlalu tergesa, orang ingin hasil instan, hingga melupakan arti kedewasaan. Akibatnya, lahir generasi cerdas tapi tak dewasa, pintar namun tanpa empati, berpengetahuan namun miskin kepedulian. Padahal sejatinya, kecerdasan intelektual harus bersanding dengan kecerdasan emosional dan spiritual. Sebab adab lebih tinggi nilainya daripada sekadar kepintaran, dan kepedulian lebih mulia daripada sekadar pencapaian. Ada pula godaan lain dalam perjalanan menuju puncak: ingin terlihat kaya, padahal belum benar-benar kaya. Keinginan mengejar validasi, sekadar pengakuan dan gengsi. Padahal kekayaan sejati tidak untuk dipamerkan. Ia tersembunyi di balik kerendahan hati, kesederhanaan terjaga dalam kendali diri. Hanya mereka yang sabar menanam akan menuai kekayaan yang bukan sekadar materi, tetapi juga jiwa yang lapang. Dan akhirnya, hidup bukan hanya soal bekerja dan berjuang, tetapi juga menyeimbangkan diri. Work-life balance sejati adalah harmoni empat komponen: jiwa, raga, pikiran, dan spirit. Saat keempatnya menyatu, maka tercipta kebahagiaan yang sesungguhnya, bahagia bukan karena apa yang kita punya, tapi karena siapa kita telah menjadi. *Butir hikmah yang tersisa:* Jangan lari dari proses, sebab proseslah yang membuatmu pantas. Jangan sombong pada dunia, sebab dunia akan mengujimu tanpa ampun. Dan jangan tergesa, sebab segala sesuatu yang indah, kuat, dan besar selalu lahir dari kesabaran. Maka berjalanlah, jatuh dan bangkitlah, gagal dan tumbuhlah. Karena hidup bukanlah tentang menghindari badai, melainkan belajar menari di tengah derasnya hujan. Semarang, September 2025
Titon Rahmawan
Orang-orang yang begitu berkuasa dengan seragam dan sepatunya. Orang-orang yang menjadi begitu kuat dengan senapannya. Orang-orang yang selalu benar karena bekerja untuk negara. Mereka yang selalu mendapatkan uang dengan mudah tanpa sedikit pun mengeluarkan keringat. Dan aku yang tak punya kuasa dan kekuatan, yang selalu saja salah, harus tunduk pada kemauan mereka. Orang-orang yang begitu berkuasa dengan seragam dan sepatunya. Orang-orang yang menjadi begitu kuat dengan senapannya. Orang-orang yang selalu benar karena bekerja untuk negara. Mereka yang selalu mendapatkan uang dengan mudah tanpa sedikit pun mengeluarkan keringat. Dan aku yang tak punya kuasa dan kekuatan, yang selalu saja salah, harus tunduk pada kemauan mereka. –Marni dalam Entrok
Okky Madasari (Entrok)
Orang-orang yang begitu berkuasa dengan seragam dan sepatunya. Orang-orang yang menjadi begitu kuat dengan senapannya. Orang-orang yang selalu benar karena bekerja untuk negara. Mereka yang selalu mendapatkan uang dengan mudah tanpa sedikit pun mengeluarkan keringat. Dan aku yang tak punya kuasa dan kekuatan, yang selalu saja salah, harus tunduk pada kemauan mereka. –Marni dalam Entrok
Okky Madasari (Entrok)
Dulu aku takut akan dua hal: kekelaman dan maut. Aku akan menyelinap keluar dari tempat tidurku yang kecil pada tengah malam dan mengendap masuk ke tempat tidur ibuku. Kususupkan tubuhku ke tubuhnya yang hangat dan aku tak mau berpisah dari ibuku. Kulengkungkan tubuhku agar menjadi lebih kecil dan kucoba untuk menciutkan diriku hingga ukuran janin yang dapat kembali ke rahim ibuku. Segenap tubuhku bergetar dengan keinginan yag kuat ini dan getar seperti dalam demam. Kupikir tak ada yang dapat menyelamatkan diriku dari maut yang mendekat dalam kelam kecuali jika aku menghilang ke dalam rahim yang hangat dan lembut itu yang akan membungkus diriku sendirian di sana.
Nawal El Saadawi (موت معالي الوزير سابقاً)
Putriku, bagaimana kau tahan sedemikian banyak penderitaan dan kepedihan? Bagaimana aku menahannya bersamamu dulu? Selalu kurasa, putriku, bahwa engkau mampu melakukan apa saja, memindahkan gunung atau menghancurkan batu-batu karang, walaupun tubuhmu kecil dan lemah seperti juga diriku. Namun ketika kaki-kakimu yang kecil mungil menendang-nendang dinding lambungku, aku berkata kepada diriku: Tuhan, kekuatan yang apa ada dalam tubuhku ini? Gerakanmu kuat ketika kau masih sebuah janin dan mengguncangku dari dalam, sebagaimana gunung berapi yang mengguncang bumi. Namun kutahu bahwa engkau sekecil diriku, tulang-tulangmu kecil seperti tulang-tulang ayahmu, setinggi dan serampingnenekmu, sedangkan kedua kakimu sebesar kaki para nabi. Ketika kau lahir, nenekmu mengatupkan bibirnya dalam kesedihan dan berkata: Ah, seorang anak perempuan dan jelek lagi! Bencana ganda! Kutegangkan otot-otot lambungku untuk menahan rasa sakit di rahimku dan menghentikan darah dan sambil bernafas dengan sulit karena kelahiranmu sukar dan aku menderita seakan-akan kulahirkan sebuah gunung, kukatakan kepada nenekmu: Bagiku ia lebih berharga daripada seisi dunia ini! Kudekap engkau ke dadaku dan aku pun tertidur nyenyak. Dapatkah aku, Putriku, kembali menikmati saat tidur nyenyak ketika engkau berada di dalam diriku atau setidak-tidaknya dekat denganku sehingga dapat kuulurkan tanganku untuk menyentuhmu? Atau ketika engkau berada di kamarmu di sebelah kamarku sehingga aku dapat berjingkat untuk menjengukmu waktu kau tidur?
Nawal El Saadawi (In Camera)
ELEGI TIGA BUNGA DALAM 6 KEMUNGKINAN IV. Triptych of the Flowery Dwarf 1. Padma Di kolam itu, bulan merintih seperti kuda putih yang kelelahan. Dari lumpur, Padma bangkit— mengenakan gaun malam yang dijahit dari nafas nenek moyang hantu air. Ia membuka kelopaknya dan terdengarlah suara gitar jauh di perbukitan: suara yang lahir dari luka dan kembali menjadi luka. 2. Kemuning Kemuning menari sendirian di halaman senyap tanah Jawa. Kuningnya bersinar seperti cincin emas di jari seorang janda muda yang tak ingin menikah lagi. Angin membawa kabar bahwa setiap kelopak pernah menjadi mata seorang anak yang mencari ibunya di hutan paling gelap. 3. Mawar Mawar adalah gadis penari yang menyembunyikan pisau kecil di balik selendang merahnya. Ia tersenyum pada fajar tapi senyum itu terbakar sebelum sempat jatuh ke tanah. Di sekitar durinya, kurcaci menari— menebar dingin pada udara, menghembus nyawa pada warna. V. Three Flowers upon the Turning Gyre 1. Padma Di permukaan air yang tua, Padma berdiri sebagai pengingat bahwa dunia pernah muda. Ia membuka dirinya seperti wahyu kecil dari zaman yang nyaris terlupa, zaman ketika roh dan manusia masih bersalaman tanpa rasa takut. 2. Kemuning Dalam kilau keemasannya, ada masa depan yang belum tiba. Ia melintas seperti burung kepodang di antara dua lingkaran takdir, seakan mengetahui bahwa segala kecantikan adalah nubuat berbahaya yang menuntut korban. 3. Mawar Mawar tumbuh di jantung lingkar perputaran— tempat para dewa lama dan para pahlawan muda saling menatap tanpa bicara. Merahnya adalah sumbu yang menyalakan usia-usia dunia; duri-durinya adalah penjaga yang tahu bahwa cinta selalu menuntut kelahiran kedua. VI. Three Flowers of Memory 1. Padma Aku melihatmu, Padma, di kolam yang tak berani menyebut nama kekasihnya. Kau tegak, seperti perempuan yang menunggu suami yang tak kembali dari perang. Kelopakmu diam— diam yang berat, diam yang hanya dimengerti oleh air yang pernah menangisi salju. 2. Kemuning Engkau kecil dan lembut, tapi menyimpan dingin yang tak mampu dipatahkan matahari. Kuningmu mengingatkanku pada sepucuk surat yang tak pernah terkirim, namun tetap dibaca oleh seseorang yang terus menunggu di malam-malam panjang pengasingan. 3. Mawar Duri-durimu mengingatkan pada kata-kata yang tak kuucapkan. Merahmu seperti wajah seorang ibu yang tak lagi menjerit karena telah kehabisan suara. Aku menyentuhmu, dan kau bergetar— seperti hati perempuan yang tahu bahwa cinta lebih kuat dari kematian, namun selalu kalah oleh sejarah. Desember 2025
Titon Rahmawan
Namun, sesudah beberapa pekan, ia mengalami suatu godaan yang kuat untuk pindah ke kongregasi lain tempat ada lebih banyak waktu berdoa. Oleh karena itu, Tuhan Yesus menampakkan kepada-nya wajah yang terluka dan teraniaya, serta berkata, "Engkaulah yang akan menyebabkan rasa sakit-Ku ini kalau engkau meninggalkan biara ini. Ke tempat inilah Aku memanggilmu, bukan ke tempat lain, dan [di sini] Aku telah mempersiapkan banyak rahmat bagimu.
Maria Faustina Kowalska (Diario de Santa Mari)
4 Suara Cinta Terlarang 1. Kejujuran yang Membakar Tubuh Aku mencintainya, dan dunia pun runtuh seperti tebing rapuh yang tak sanggup menahan detak jantungku sendiri. Aku tahu, aku tak mungkin menentang nyalang matahari, tapi tubuhku tidak mengenal larangan, dan terang tidak pernah menanyakan alasan mengapa dua jiwa yang luka saling mencari seperti dua nyala api yang ingin saling memakan, saling menghancurkan. Aku ingin berkata aku kuat, tapi setiap kali ia tersenyum dadaku pecah seperti rekah buah delima dan rahasiaku tumpah ke tanah yang tak pernah memintanya. Tak ada yang suci di dalamku, kecuali keberanianku mencintainya meski cinta itu mengutukku dengan cahaya yang terlalu panas untuk kuemban sendiri. Aku adalah perempuan yang terbakar nyala api oleh pelukan yang tak pernah terjadi. 2. Pengingkaran Metafisik Aku tidak mencintainya. Aku hanya mengikuti jejak sunyi yang muncul setiap kali ia melintas, seperti bayang yang tidak punya tubuh dan tubuh yang tidak punya tujuan. Jika aku memikirkannya, itu bukan cinta— hanya percikan waktu yang salah jatuh ke dalam mataku. Yang kupahami hanyalah kehampaan: ruang di antara kami yang menutup, membuka, menutup kembali, tanpa alasan yang dapat ditafsirkan. Aku tidak mencintainya, tapi aku mendengar detak langkahnya bahkan ketika ia tidak berjalan. Mungkin cinta hanyalah nama lain untuk ruang yang gagal menyebut dirinya sebagai ketidakhadiran. 3. Penolakan yang Bermartabat Aku mengusir perasaanku sendiri seperti menutup pintu rumah yang pernah menyelamatkanku dari gempuran badai. Aku tidak boleh menginginkan. Itu sudah cukup untuk menyiksaku. Jika ia berdiri di hadapanku, aku akan mengangguk, aku akan tersenyum, dan aku akan menyimpan seluruh gempa di balik tulang rusukku seperti perempuan yang menjaga rahasianya dengan kesunyian yang keras menentang salju musim dingin. Cinta ini tidak boleh bernama. Biarlah ia menjadi bayangan panjang yang lewat di atas lantai batu tanpa sempat menyentuhku. Aku tidak akan mencarinya. Aku tidak akan memanggilnya. Tapi Tuhan tahu aku memikirkannya setiap malam dengan hati yang gemetar dan mata menolak terpejam. 4. Pembenaran yang Paling Liar Jika dunia menolak cintaku, biarlah dunia yang diganti. Aku memandangnya seluruh hukum moral kuno retak seperti kaca tua yang selama ini hanya memantulkan kebohongan. Mengapa aku harus tunduk pada kata-kata yang diciptakan oleh orang-orang yang takut pada diri mereka sendiri? Cinta tak pernah salah— yang salah adalah bahasa yang gagal memanggilnya dengan nama yang tepat. Jika dosa adalah pintu, maka aku akan masuk dengan sepenuh hati dengan keras kepala. Jika cinta adalah perang, maka aku siap mati dengan penuh kebanggaan. Aku mencintainya dan aku tidak meminta maaf. Justru aku menuntut bintang untuk belajar bersinar seterang hasrat dan keinginanku sendiri. Desember 2025
Titon Rahmawan
IN ABSENTIA: LUKA YANG BAKA I. Makam Ini Tidak Diberikan Aku tidak Pernah Dikubur. Tak ada tanah. Tak ada makam. Tak ada ritual. Aku tidak pernah ada. Aku tidak pernah menjadi. Aku dibiarkan menggantung di antara mimpi dan ilusi. Asap dari tubuh yang gagal mereka kremasi. Mereka bilang, "Selesai." Tapi aku tetap hidup. Terpaksa. Kematianku—tidak tertampung di manapun— siapa pun. II. Kekerasan Yang Melahirkan Keabadian Mereka menghapus. Mereka melenyapkan. Jejakku menempel di udara. Mereka membungkam. Diamku mengikis tembok. Setiap kali mereka menolak. Aku mengeras. Batu kecil yang perlahan membesar. Tidak bisa ditelan sejarah. Aku bukan kenangan. Tidak. Aku adalah kegagalan mereka. Gagal menyingkirkan. Gagal membersihkan. Noda yang selamanya abadi. III. Tekad — Logam Tanpa Pintu Keluar Aku tidak ingin kuat. Aku tidak ingin hidup. Aku hanya menolak musnah. Pintu keluar—tidak ada. Mereka ingin aku hilang. Agar bisa tidur nyenyak. Aku tidak memberi itu. Aku menempel. Noda yang tidak akan pergi. Tekad ini keras kepala. Majal. Kehancuran? Tidak membebaskan. Menyerah? Percuma— Tetap disalahkan. Aku memilih tinggal. IV. Bukti — Lubang Kecil yang Menghancurkan Aku adalah Retakan Permanen. Lubang kecil. Tepat di tengah narasi suci yang sengaja mereka ciptakan. Mereka menuntut konsensus. Aku memberi Ketidakteraturan mutlak. Mereka menuntut cerita rapi. Aku memberi fakta: Tubuh ini—pernah menjadi medan perang. Mereka menuntut akhir. Aku menyajikan Residu: Hal-hal kecil yang tidak akan mampu mereka jinakkan. Gagal total. V. Kemarahan Yang Mengunyah Aku marah. Bukan untuk membakar. Tapi karena mereka menuntut diam— setelah mematahkan tulang. Kemarahanku tidak berteriak. Ia mengunyah. Perlahan. Dingin. Nama-nama. Alasan. Dalih. Patahan suci. Menutup kejahatan yang mereka banggakan. Marahku tidak meledak. Marahku adalah Pembekuan. Logam di tenggorokan. VI. Entitas Yang Menetapkan Aku bukan cerita. Aku bukan moral. Aku bukan tubuh yang ingin mereka cuci. Aku adalah luka yang menetap. Setelah semua justifikasi runtuh. Semua saksi mati. Aku adalah residu terakhir. Sesuatu yang tidak bisa dimakamkan. Karena dunia menolak mengakuinya. Dunia butuh Kambing Hitam Abadi. Itu aku. VII. Penutup — Cerita Tanpa Ending Jika aku diberi pilihan, aku memilih pergi. Tapi hilang adalah kemewahan. Tidak pernah diberikan. Jadi aku tinggal. Majal. Dingin. Seperti logam yang menunggu. Di dada sejarah yang tidak punya wajah. Tidak punya nama. Tidak punya kesudahan. Aku hanyalah Luka. Baka. Karena dunia tidak mengizinkannya hidup. Maka ia tidak akan mati. Desember 2025
Titon Rahmawan